Dalam keadaan tidak bisa banyak bergerak, saya banyak berpikir dan berdoa, serta merenung. Lalu saya menemukan gambar ini di internet:
Terbaring di ruang pasien bedah, saya baru menyadari betapa saya tidak bersyukur ketika saya sehat dan bisa beraktivitas, ketika saya normal; betapa saya kurang ramah kepada orang-orang, yang jarang saya sapa namun pada musibah ini berdatangan membantu dan menemani, dan menjenguk. Tetangga-tetangga di desa, sanak saudara, teman-teman, umat gereja, keluarga bapak kost saya dari Malang, dan semua orang yang seharusnya sering saya sapa dan ajak bicara, sungguh begitu baik. Meskipun saya jarang menyapa dan meskipun saya jarang berkunjung dan berbicara dengan mereka, semuanya malah datang menjenguk, dan bahkan menemani saya selama proses rawat inap itu.
Hari-hari yang banyak kejenuhan karena proses penanganan rs yang lama diisi juga dengan hal-hal baik yang menggembirakan, sehingga akhirnya pada hari kesembilan saya boleh pulang, namun harus bed rest total selama dua bulan demi penyembuhan total liver saya. Sungguh melegakan, saya keluar dari rumah sakit dan melihat dunia lagi. Pak Sis menjemput saya pada siang hari setelah semalam menjemput ayah dan ibu saya dari Solo. Saya menikmati perjalanan singkat dari Wlingi ke rumah, yang terasa sungguh luar bisa menggembirakan. It is good to be normal again. It is great to be healthy!
Sungguh besar anugerah dan pertolongan Tuhan dalam musibah ini. Saya tidak akan melupakan jasa-jasa semua orang yang telah membantu keluarga saya, termasuk teman teman saya kuliah serta Oni dan Rendi yang membereskan barang-barang kost saya.
Terimakasih, semoga berkat Tuhan yang ajaib melimpah bagi semuanya!
Tuesday, April 19, 2016
Di Rumah Sakit
Saya diperbolehkan pulang pada sore harinya namun tidak jadi karena setelah diperiksa, dokter memutuskan untuk memasang saya kateter. Kala itu warna air seni saya bercampur darah sehingga keesokan harinya, saya di rontgen lagi ditambah usg, yang hasilnya mengharuskan saya untuk opname. Saya terkena hematom hepar, atau luka hasil benturan pada liver, sehingga pada kateter, air seni bercampur darah. Mengerikan. Saya sungguh lemas dan pesimis luar biasa pada waktu itu karena memikirkan skripsi yang belum selesai ditambah memikirkan ayah yang tak segera ditolong. Jadi di rumah sakit, hari ke hari saya terus mengamati kantong kateter dan melihat perkembangannya (yang sangat lama).
Di ruang pasien bedah itu, saya sungguh merasa tidak nyaman karena panasnya udara dan rasa jenuh karena tidak dapat banyak bergerak serta karena merasa (bahasa jawanya pliket) atau perasaan tidak nyaman karena tidak mandi dan tidak bisa tidur nyenyak. Selain itu, benda asing (kateter) itu disamping membuat risih, menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, pikiran dihantui dengan kekhawatiran akan keadaan ayah dan liver saya. It was very terrible! Saya tidak mampu menemukan kata lain untuk menjelaskan keadaan yang memilukan itu. Di ruang opname itu saya sungguh merasa kehilangan hidup saya, serta pilu karena merasa sungguh tidak berdaya disaat keluarga sangat membutuhkan tenaga saya. Namun saya beruntung memiliki tetangga-tetangga yang seperti saudara dan sanak saudara yang baik. Mereka semua juga turut 'repot' dalam musibah keluarga saya ini. Pak Sis (paman saya (suami adik ibu saya)) menguruskan jasa raharja, karena rs tidak menerima BPJS, sementara isterinya (bibi saya) menjaga saya di rs karena pada hari kedua, setelah berdiskusi dengan orang-orang terdekat keluarga kami, diputuskan bahwa ayah akan dibawa ke Solo karena di Wlingi tak kunjung ditangani. Demikianlah hari pertama dan kedua. Keluarga, tetangga, kawan, dan kenalan semuanya silih berganti memenuhi ruang opname saya dan bapak. Mereka menolong dengan cara dan kemampuan mereka masing-masing.
Hari-hari selanjutnya, ayah ditemani ibu selama di rawat di rumah sakit orthopedi di Solo, setelah diantar oleh mas Nanang, pak Sis, dan satu tetangga lain. Sementara itu, saya ditemani bibi (sesekali diganti oleh sanak dan saudara saya yang lain) selama opname di rs Wlingi.
Saya selalu berdoa untuk kesembuhan ayah dan syukurlah, Tuhan memberi keajaiban yang banyak dan besar untuk keluarga kami. Setelah pertolongan dari orang-orang, Tuhan menolong dengan membantu menormalkan kadar gula ayah saya dari 500 ke 138, menormalkan tensi dan kadar hb ayah sehingga setelah beberapa persiapan, ayah berhasil dioperasi (ternyata setelah di Solo, yang patah sebenarnya adalah tulang paha kanan, pergelangan tangan kanan, dan rahang kanan). Syukurlah operasi berjalan lancar dan ayah diperbolehkan pulang. Saya senang mendengar kabar-kabar baik yang datang. Mukjizat-mukjizat Tuhan (sekali lagi) secara nyata terjadi!
Di ruang pasien bedah itu, saya sungguh merasa tidak nyaman karena panasnya udara dan rasa jenuh karena tidak dapat banyak bergerak serta karena merasa (bahasa jawanya pliket) atau perasaan tidak nyaman karena tidak mandi dan tidak bisa tidur nyenyak. Selain itu, benda asing (kateter) itu disamping membuat risih, menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, pikiran dihantui dengan kekhawatiran akan keadaan ayah dan liver saya. It was very terrible! Saya tidak mampu menemukan kata lain untuk menjelaskan keadaan yang memilukan itu. Di ruang opname itu saya sungguh merasa kehilangan hidup saya, serta pilu karena merasa sungguh tidak berdaya disaat keluarga sangat membutuhkan tenaga saya. Namun saya beruntung memiliki tetangga-tetangga yang seperti saudara dan sanak saudara yang baik. Mereka semua juga turut 'repot' dalam musibah keluarga saya ini. Pak Sis (paman saya (suami adik ibu saya)) menguruskan jasa raharja, karena rs tidak menerima BPJS, sementara isterinya (bibi saya) menjaga saya di rs karena pada hari kedua, setelah berdiskusi dengan orang-orang terdekat keluarga kami, diputuskan bahwa ayah akan dibawa ke Solo karena di Wlingi tak kunjung ditangani. Demikianlah hari pertama dan kedua. Keluarga, tetangga, kawan, dan kenalan semuanya silih berganti memenuhi ruang opname saya dan bapak. Mereka menolong dengan cara dan kemampuan mereka masing-masing.
Hari-hari selanjutnya, ayah ditemani ibu selama di rawat di rumah sakit orthopedi di Solo, setelah diantar oleh mas Nanang, pak Sis, dan satu tetangga lain. Sementara itu, saya ditemani bibi (sesekali diganti oleh sanak dan saudara saya yang lain) selama opname di rs Wlingi.
Saya selalu berdoa untuk kesembuhan ayah dan syukurlah, Tuhan memberi keajaiban yang banyak dan besar untuk keluarga kami. Setelah pertolongan dari orang-orang, Tuhan menolong dengan membantu menormalkan kadar gula ayah saya dari 500 ke 138, menormalkan tensi dan kadar hb ayah sehingga setelah beberapa persiapan, ayah berhasil dioperasi (ternyata setelah di Solo, yang patah sebenarnya adalah tulang paha kanan, pergelangan tangan kanan, dan rahang kanan). Syukurlah operasi berjalan lancar dan ayah diperbolehkan pulang. Saya senang mendengar kabar-kabar baik yang datang. Mukjizat-mukjizat Tuhan (sekali lagi) secara nyata terjadi!
Kecelakaan
Dua minggu yang lalu, keluarga saya mengalami musibah. Saya dan ayah kecelakaan di daerah Kesamben, Blitar, ketika dalam perjalanan ke Singosari. Kala itu kami berangkat puku 4.00 pagi dan sampai daerah Kesamben pada sekitar pukul setengah lima. Saya tidak begitu ingat kejadian itu karena kalau mencoba mengingat kejadiannya, rasanya seperti mengingat kejadian dalam mimpi. Jadi, berdasarkan ingatan, waktu itu ketika melewati tikungan, sebuah mobil travel (elf) berwarna merah secara tiba-tiba muncul di depan kami dan berkecepatan tinggi, sehingga saya tidak punya kesempatan untuk menghindar. Setelah itu, saya tidak ingat-apa-apa lagi. Mungkin saya pingsan, karena setelah beberapa saat saya bangun di rerumputan di dekat ayah saya yang berdarah kelihatan bingung. Pada saat itu, saya merasa seperti bangun dari tidur dan mendapati kejadian mengerikan itu. Saya tidak percaya bahwa itu nyata dan mencoba menampar pipi, namun ternyata memang saya tidak bermimpi. Darah keluar dari mulut ayah dan saya begitu panik bercampur bingung.
"Pak sampean nggak popo pak? Sampean kok metu getihe pak, dodone sampean nggak popo? Wetenge sampean loro opo enggak pak?" (saya bertanya apakah bapak merasakan sakit di perut atau di dada, karena begitu panik melihat darah keluar dari mulut bapak)
Ayah menjawab "Nggak popo le, aku. Mung sikilku tok sing loro saiki." (bapak menjawab tidak apa-apa, hanya saja kakinya terasa sangat sakit)
Saya lega mendengarnya namun masih sangat panik.
"Awakdewe iki arepe neng endi to le?" (kita ini mau kemana to nak?)
Ayah tidak ingat apa-apa tentang kemana tujuan kami, dan sayapun tidak mengerti mengapa saya bisa sampai di tempat itu dan kemana gerangan saya dan ayah pergi di pagi buta itu. Setelah beberapa saat berapa orang mulai berhenti dan menghampiri kami. Mereka bertanya apakah kami jatuh sendiri dan bagaimana bisa kecelakaan seperti itu, namun saya tidak bisa menjawab karena tidak ingat apa-apa. Satu orang lain berkata "paling iki ditabrak elf, iki ono spion e" (mungkin ini ditabrak kendaraan elf, ini spionnya ketinggalan). Selanjutnya, beberapa polisi datang dan menanyai kami namun saya dan bapak masih tidak bisa memberi jawaban karena tidak ingat. Kami dibawa ke UGD rs terdekat namun ditolak karena tidak mampu menangani, akhirnya kami dibawa lagi ke barat melewati tempat kejadian itu menuju rumah sakit Ngudi Waluyo Wlingi. Di perjalanan ayah meminta saya untuk menghubungi saudara, siapa saja untuk datang ke rs, sayang di hp saya hanya ada nomor keponakan jauh sekaligus tetangga saya yang kuliah di Malang. Akhirnya saya menghubunginya (dek Lian) dan meminta tolong untuk menelponkan ayahnya untuk ke rs Wlingi.
Sesampainya di rs, kami langsung dimasukkan IGD namun masih di luar karena ruang IGD sudah penuh pasien lain yang juga mengalami cedera kecelakaan. Mas Nanang (saya memanggil ayah dek Lian demikian) waktu itu sudah sampai duluan di rumah sakit dan beliau langsung kebingungan melihat saya dan bapak yang mengerang kesakitan tanpa mendapat penanganan medis. Mas Nanang juga dibuat panik oleh polisi yang memintanya untuk mengurus beberapa hal penting. Jadi waktu itu di IGD, ayah saya mengeluh kesakitan luar biasa karena kaki kanannya berdarah dan hanya diperban saja lalu ditinggal perawat dan dokter, sementara saya mengeluh kesakitan luar biasa di daerah abdomen kanan dan punggung bawah. Beberapa saat kemudian orang-orang mulai datang, mulai dari bulek saya hingga tetangga-tetangga. Semuanya berkumpul disitu. Kami masih kesakitan. Ayah sangat putus asa karena sakit yang luar biasa dan tidak segera ditangani. Menurut hasil rontgen, ayah mengalami patah di tulang paha, kaki, dan pergelangan tangan, sementara saya tidak mengalami patah tulang, hanya kuku jari manis kanan yang mengelupas. Penanganan medis untuk ayah adalah perban dan anti tetanus, sementara saya hanya suntikan antibiotik.
Menjelang siang, saudara-saudara dari Singosari, Malang, Blitar, serta tetangga-tetangga semuanya berdatangan menjenguk kami, begitupun pada sore hari hingga malamnya. Hari itu adalah hari yang sangat panjang bagi saya dan bapak, hari yang memilukan.
Saturday, March 19, 2016
Perpisahan dengan Kos
Dua hari terakhir ini keluarga pak kos sibuk pindahan. Sedih rasanya harus berpisah dengan keluarga ini, karena saya di akhir-akhir bulan ini justru sangat akrab dengan mereka semua, terutama ibu kos yang sering bercerita banyak hal yang dialami keluarganya kepada saya. Kata ibu kos, beliau tidak pernah menceritakan hal itu kepada penghuni kos lain, jadi saya merasa terhormat untuk mendengar setiap cerita beliau. Dengan pak kos sendiri, saya juga semakin akrab karena semakin sering saling mengolok (bercanda) setiap bertemu. Suasana kos tidak pernah sepi selama keluarga ini di rumah. Maka, menyadari mereka akan pergi, rasanya keadaan menjadi tidak enak dan tidak aman seperti biasanya, terutama sesudah mengetahui watak calon pemilik yang baru.
Saya mungkin beruntung, karena setelah ini jika berhasil saya akan wisuda bulan April. Beberapa penghuni kos lain yang masih mahasiswa baru akan sangat kerepotan di minggu-minggu ini. Saya mungkin tidak perlu kos lagi dan fokus pada skripsi dan mencari pekerjaan.
Mengapa saya harus menempati kos hanya sementara dan akhirnya selalu pindah-pindah? Pertanyaan ini seringkali mengusik saya. Saya sudah di kos ini selama lebih dari 8 bulan dan sangat nyaman dengan semua fasilitas dan orang-orang disini. Saya sudah sangat nyaman bisa download file berpuluh-puluh gigabyte dan youtube-an setiap hari. Mungkin semua ini adalah bagian dari rencana Tuhan pada saya, supaya jangan terlalu lama di zona nyaman dan fokus pada kewajiban. Mungkin memang demikian; saya perlu move on dan lebih mandiri lagi.
Namun, untuk sementara ini saya akan download film-film dan beberapa hal lainnya sebanyak mungkin selama wifi gratis belum ikut pindah juga, hehe.
Saya mungkin beruntung, karena setelah ini jika berhasil saya akan wisuda bulan April. Beberapa penghuni kos lain yang masih mahasiswa baru akan sangat kerepotan di minggu-minggu ini. Saya mungkin tidak perlu kos lagi dan fokus pada skripsi dan mencari pekerjaan.
Mengapa saya harus menempati kos hanya sementara dan akhirnya selalu pindah-pindah? Pertanyaan ini seringkali mengusik saya. Saya sudah di kos ini selama lebih dari 8 bulan dan sangat nyaman dengan semua fasilitas dan orang-orang disini. Saya sudah sangat nyaman bisa download file berpuluh-puluh gigabyte dan youtube-an setiap hari. Mungkin semua ini adalah bagian dari rencana Tuhan pada saya, supaya jangan terlalu lama di zona nyaman dan fokus pada kewajiban. Mungkin memang demikian; saya perlu move on dan lebih mandiri lagi.
Namun, untuk sementara ini saya akan download film-film dan beberapa hal lainnya sebanyak mungkin selama wifi gratis belum ikut pindah juga, hehe.
Kebesaran Tuhan yang Ajaib
Sekitar seminggu yang lalu keluarga saya mengadakan selamatan untuk almarhumah nenek saya. Saya berangkat dari Malang hari Sabtu membonceng ibu naik sepeda motor karena ibu saya ini sering mabuk kalau naik bus dan kendaraan roda empat lainnya. Seperti biasa, perjalanan 2 jam ini melelahkan apalagi sebelum keluar dari area kota Malang yang selalu macet. Jalanan baru terasa sepi setelah sampai di Kepanjen, namun saya tetap pelan-pelan. Di jalan raya-jalan raya yang semakin ramai seperti sekarang ini, memang sebaiknya pelan-pelan kalau berkendara atau mengemudi dan yang penting: hati-hati. Saya baru benar-benar menyadarinya kala itu ketika sampai di Wlingi, ada truk gandeng yang berhenti di tengah jalan yang sempit. Pada saat itu jalanan terlihat sepi dan saya mencoba mendahului truk itu, tetapi ternyata dari arah berlawanan ada kendaraan lain sehingga saya harus menepi kearah badan truk. Truk besar yang sebelumnya diam itu tiba-tiba kembali berjalan dan saya bingung karena memiliki ruang gerak yang sempit. Kaca spion motor terserempet badan truk namun tidak apa-apa. Ibu saya panik. Terdengar suara sesuatu yang terlindas di aspal. Setelah truk itu berjalan, tak ada kendaraan lain dari arah berlawanan dan saya melanjutkan perjalanan dan mendahului truk itu. Ibu saya masih panik namun saya yang lebih khawatir akan ibu. Namun ibu saya tidak apa-apa dan saya terus berkendara sambil mengingat-ingat kejadian itu. Beberapa saat saya langsung ingat bahwa kaki kiri saya terlindas ban truk itu. Namun ada sesuatu yang janggal. Pada saat kejadian, saya merasa benar-benar terlindas namun tidak merasa sakit dan bahkan saya sibuk menjaga keseimbangan. Saya tidak langsung menceritakan kepada ibu hal ini.
Mungkin secara normal dan sewajarnya, kaki saya pasti sudah remuk atau kalau saya beruntung, hanya patah tulang. Namun rupanya saya jauh lebih beruntung karena kaki saya tidak apa-apa dan meskipun ban truk itu memberi bekas lindasannya di sepatu yang tipis itu, saya baik-baik saja.
Ini adalah pelajaran berharga pada hari itu, sekaligus pengalaman luar biasa akan kebesaran Tuhan yang ajaib.
Wednesday, March 2, 2016
Ode An Die Freude
Akhir-akhir ini, khususnya di akhir tahun 2015 lalu hingga sekarang, saya tidak mendengarkan musik-musik yang biasa melekat menjadi playlist setiap minggunya. Daftar putar saya selama ini kebanyakan hanyalah musik-musik klasik dan gregorian, disamping sesekali mendengarkan musik-musik populer. Bukannya sok elegan, namun hal ini dikarenakan musik-musik itu sangat nyaman untuk suasana ngantuk. Bukan hanya itu saja, musik klasik cocok untuk suasana hati selama beberapa bulan terakhir ini. Teman-teman saya biasa menyebutnya "kosong," atau kalau saya mengartikannya, suatu kondisi tidak produktif dimana yang ada di pikiran hanyalah rutinitas harian, bermain game, dan tidur. Bulan-bulan ini saya benar benar 0! Maka saya sering mendengarkan lagu-lagu klasik itu karena serbaguna; di satu sisi dapat menenangkan hati dan dapat membuat tertidur nyenyak, dan di sisi lain dapat memberi suatu perasaan hidup dan senang. Satu lagu yang paling sering saya dengarkan adalah Symphony No. 9 atau Ode An Die Freude karya Beethoven. Lagu ini sangat saya sukai; saya selalu membayangkan saya menjadi dirigen atau conductor memimpin orkestra dan paduan suara, setiapkali mendengarkan musik yang panjangnya lebih dari 17 menit ini.
Karena keadaan kosong ini, saya juga mulai mencoba belajar bahasa Jerman. Beberapa pengajaran dasar bahasa Latin yang saya terima sewaktu SMA rupanya sangat membantu. Saya hanya perlu menghafal beberapa elemen dasar dan menambah kosakata bahasa Jerman yang sekiranya umum dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oke kawan, demikianlah! if u're "0", keep being cool! Semoga hari-harimu tidak 0 ya! Mugo-mugo umak kadit kosong! Hehe
Wisuda Teman-teman
Sabtu, 28 Februari yang lalu adalah hari wisuda teman-teman sejurusan saya yang sudah berhasil menyelesaikan sidang skripsi mereka di akhir semester lalu. Pada hari itu saya menemui mereka seusai wisuda meskipun tidak semuanya karena saya terlambat. Siang itu saya melihat keceriaan dan kemeriahan di wajah para wisudawan-wisudawati berserta keluarga dan teman-teman mereka. Suasana itu membuat saya turut bergembira. Saya dengan beberapa teman waktu itu hanya bisa berfoto bersama teman wisudawati kami Octa, karena yang lain sudah pulang lebih dulu. Seusai kemeriahan wisuda dan keramaian yang menyenangkan, gedung wisuda dan sekitarnya tiba-tiba kembali seperti semula, sepi.
Nampaknya hujan menjadi penutup hari meriah di gedung itu dan semua orang kembali ke kediaman masing-masing. Saya dan beberapa teman masih ngobrol-ngobrol sambil menunggu hujan reda. Setelah beberapa puluh menit, akhirnya kami semua pulang sementara teman kami, Satrio masih harus kuliah. Saya kembali ke kos bersama Rendi yang menitipkan sepeda motornya. Setelah meninggalkan kampus, ada sesuatu yang mengganjal pikiran. Saya pikir itu hanyalah perubahan suasana hati saja karena beberapa menit sebelumnya berada di suatu kemeriahan lalu tiba-tiba kembali ke kediaman yang sepi. Namun bisa jadi perasaan tidak enak itu adalah suatu ketidakrelaan untuk berpisah dengan teman-teman. Saya sendiri kadang merasa ragu dan gentar menghadapi hari-hari yang akan datang setelah kelulusan. Apapun yang mengganjal pikiran pada waktu itu, satu hal yang pasti adalah perpisahan dan hidup yang baru. Saat ini yang saya harapkan adalah hal baru menyenangkan yang menyibukkan saya sehingga hidup terasa penuh dengan. petualangan. Demikianlah, kawan. Jika engkau memiliki harapan yang sama, semoga segera menemukannya
![]() | |
| Semoga setelah lulus, Octa berhasil dan tetap langgeng dengan Bagas! |
Subscribe to:
Posts (Atom)

