Tuesday, October 4, 2016

Susahnya Urusan dengan Birokrasi

Mungkin hal yang sama juga dialami banyak orang. Tiga bulan yang lalu adik saya mengurus e-ktp tetapi tidak bisa karena kesalahan nama dan tanggal lahir pada KK. Sebulan yang lalu saya baru mulai mengurus perubahan data KK yang bisa dibilang sangat ribet. Lalu setelah itu adalah pengajuan cetak KK baru yang harus saya tunggu dua minggu untuk jadi, yang akhirnya masih terdapat kesalahan lagi. Kali ini kesalahannya baru; di awal, nama kepala keluarga sudah benar, hanya tanggal lahir dan nama saya dan adik yang salah. Namun setelah pembenaran data, justru kesalahan baru muncul, kepala keluarga salah.

Saya sangat geram bercampur kecewa pada urusan dengan birokrasi ini. "Kok bisa-bisanya mengurus satu KK saja selalu ada kesalahan. Seringkali karena saking marahnya, saya merasa seperti ingin meledak. Maka agar tidak berdampak buruk bagi orang lain, saya segera pulang dan pergi ke halaman belakang rumah dan melampiaskan kemarahan dan kekecewaan itu pada pohon pisang. Saya memukulnya sekuat tenaga hingga batangnya rusak. Mungkin terlihat bodoh, namun saya rasa ini adalah cara baik mengeluarkan energi negatif tanpa melukai hati orang lain. Saat ini saya pikir apa yang saya lakukan ini lebih baik daripada menahan kemarahan terus-menerus. Cara mengeluarkan kemarahan bermacam-macam. Memecahkan benda-benda juga sangat melegakan. Yang terpenting, orang lain sebaiknya tidak terkena dampaknya.

Sunday, August 28, 2016

0!

Pada siang hari ini saya terbangun, kira-kira pukul 15:00. Saya tidur lagi dan bangun satu jam kemudian, dan mendapati sesuatu yang mirip seperti kesedihan bercampur kegelisahan. Saya bertanya-tanya, mengapa perasaan semacam ini tiba-tiba datang.
Setelah mencoba menimbang-nimbang segala faktor, saya menyimpulkan bahwa: pertama, mungkin karena saya belum mendapat pekerjaan; kedua terasa jelas ini adalah kesepian karena sudah jarang lagi berkumpul dengan teman-teman; dan ketiga, mungkin karena ketidakpercayaan diri untuk melaksanakan tanggungjawab untuk keluarga saya.
Satu encouragement yang kerapkali saya andalkan adalah bahwa saya akan dapat melakukannya dengan bantuan dan berkat Tuhan. "Things will change, I will change. God bless me and I'll be able to handle every circumstance and bear any responsibility."
Itulah yang saya percaya selama ini.

Setelah tenggelam dalam kegundahan dan permenungan singkat ini, saya  keluar rumah. Hari sudah agak gelap dan halaman basah karena hujan. Terjadi suatu silentium seperti biasanya. Hujan menghentikan semua aktivitas, dan membawa keheningan.

Hmm, saya benar-benar 0!

Bagaimana Kabar Saya?

Segala urusan di kampus telah hampir selesai. Ini adalah saatnya mencari pekerjaan atau apalah orang menyebutnya. "Setelah lulus mau kerja apa?" Pertanyaan ini mungkin sama sensitifnya dengan "wisuda kapan?" atau "bagaimana skripsimu?"
Beberapa orang mungkin sedih apabila tidak memiliki jawaban yang melegakan untuk si penanya dan dirinya sendiri. Sayapun juga demikian. 

Wednesday, May 18, 2016

SIDANG SKRIPSI

Susahnya mengejar gelar

Saya boleh berbahagia karena pada hari Jum’at 13 Mei lalu saya sudah sidang skripsi, meskipun harus sidang lagi pada Rabu 18 Mei bersama 1 penguji karena tidak bisa datang pada hari Jumat. Saya senang sudah menyelesaikan sidang, meskipun tahu hasilnya kurang baik karena penguji saya yang terkenal kritis itu memberi revisi pada ‘semua’ hal dalam skripsi saya; iya, semua halaman mulai dari judul sampai bab kesimpulan dan saran. Namun yang lebih mengecewakan adalah komentar beliau yang mengatakan bahwa dalam bab 3 tidak ada ‘issue’ samasekali. Jadi apa yang sudah saya yakini sebagai topik yang bagus,  apa yang teman saya apresiasi sebagai penulisan yang baik dan menarik, serta diksi yang menurut satu teman lain sangat variatif dan khas, ternyata tidak ada artinya samasekali bagi dosen penguji ini. Jadi saya merasa harus bekerja keras lagi untuk memperbaiki draft saya dari bab awal hingga akhir.

Skripsi yang ‘kurang baik’ ini tentunya tidak selesai begitu saja tanpa perjuangan. Saya berangkat ke Malang setelah beberapa waktu pasca kecelakaan. Sebenarnya saya kadang-kadang khawatir apabila kondisi hematoma di liver saya tidak kunjung sembuh atau menjadi lebih parah. Namun saya selalu berpikir positif tentang hal ini dan tidak mencoba melakukan aktivitas-aktivitas berat. “Im back!” saya berkata dalam hati. Jadi, mulai lagi rutinitas dan serangkaian hari-hari sibuk di kampus. Ada banyak kesulitan yang saya temui seperti susahnya mengatur jadwal bertemu dengan dosen, banyaknya koreksi yang diberikan, serta sulitnya untuk tetap bersemangat dan melakukan revisi demi revisi. Saya banyak ­bergerak berjalan dari gedung ke gedung, berulangkali mencetak skripsi, serta hanya duduk lama membiarkan waktu terbuang karena menunggu dosen. Saya bersyukur maam Maya, dosen pembimbing 1 saya berbaik hati membantu revisi saya dengan memperbolehkan konsultasi lewat e-mail, namun pada hari-hari akhir kesempatan sidang, beliau mendadak mengatakan bahwa akan away pada tanggal 10-15 Mei padahal terakhir sidang tanggal 14, dan saya baru mengumpulkan draft pada tanggal 4. Butuh hampir seminggu kemudian untuk mendapatkan jadwal dan setelah itupun urusannya tidak mudah. Saya harus mengatur jadwal sebelum bu Maya pergi ke Belanda, jadi antara tanggal 9-11 saya masih ada kesempatan. Namun rupanya pada tanggal 10 jadwal baru bisa keluar, karena sekretaris jurusan berulangkali tidak menepati janjinya. Angin segar datang karena bu Maya mengatakan beliau menyuruh saya untuk sidang bersama dengan 2 penguji lain, dan beliau akan sidang sendiri dengan saya ketika urusan di Belanda sudah selesai. Maka saya segera mendiskusikan jadwal dengan dosen 1 dan penguji. Butuh 1 hari untuk mencapai suatu kepastian karena respon yang sangat lama dalam komunikasi dengan WA. Jadi setelah pada sore sebelumnya saya mendiskusikan jadwal, keesokan paginya saya mendapat kepastian bahwa saya tidak bisa sidang sebelum tanggal 14. Setelah itu saya pasrah dan seperti orang stress berkata-kata tidak jelas, karena saya merasa sudah berusaha sampai pada batasnya, sudah mentok; sudah berulangkali wira-wiri dari Batu ke kampus dan berulangkali dikecewakan, berulangkali sia-sia menunggu di depan kantor sekjur, dan beberapa kali merasa pusing, nyeri abdomen, serta batuk yang tidak kunjung sembuh membuat hari-hari sibuk itu sangat berat. Dalam keadaan stress itu saya (istilah bahasa jawanya) mbatin, Susahnya mengejar gelar. Mengapa sistemnya mengharuskan mahasiswanya yang repot? Mengapa tidak dibuat seperti sistem KRS saja? Bukankah lebih mudah apabila dibuatkan sistem yang bagus? Betapa susahnya menemui dosen dan mengatur jadwal! Saya sudah lelah, ingin segera pulang ke rumah. Oh Tuhan, jika Tuhan mau, bantulah saya saat ini, untuk sekali ini agar saya bisa segera sidang dan melanjutkan hidup!” Saya sudah pasrah. Setelah saya mbatin seperti itu, saya ke rumah kawan saya Oni yang sudah mendapat kepastian sidang hari Jum’at. Disitu, keajaiban terjadi. Dosen 1 yang mengatakan tidak bisa tiba-tiba membalas percakapan dan mengatakan bahwa beliau bisa setelah sidang kawan saya, Oni. Saya bahagia bukan main. Setelah kabar itu, berbagai macam keajaiban  terjadi mengiringi perjuangan saya dan Oni mengurus berbagai urusan lain untuk sidang, seperti langit mendung dan petang pertanda hujan segera turun, seketika terbelah oleh cahaya matahari dan menjadi terang dalam waktu singkat. Setelah jam 17:00 barulah saya dan Oni bisa pulang ke rumah dan beristirahat sambil mempersiapkan presentasi untuk hari Jum’at. Praise the Lord!!!!

Kurang-lebih selama satu bulan sebelum hari sidang itu, hidup saya rasanya tidak tenang samasekali. Akhirnya sidang yang hanya ada di angan-angan itu terlaksana juga. Sekarang saya sudah tenang. Bagaimanapun, saya tidak boleh lengah karena masih panjang perjalanan menuju kelulusan karena banyaknya revisi dan rumitnya persyaratan yudisium.

Friday, April 22, 2016

Dua Pihak

Ada dua pihak dalam hidup bapak saya, pihak 1 adalah saduara-saudarinya, sedangkan pihak kedua adalah tetangga-tetangga. Selama beberapa tahun terakhir saya secara pasif selalu mengetahui hubungan keduanya dan pendapat mereka tentang bapak saya. Pihak 1 berpendapat bahwa mereka kasihan kepada bapak dan mencoba membantunya dalam beberapa urusan penting, namun menurut mereka bapak selalu bersikap kaku dan tidak bisa diarahkan, misalnya dalam diskusi tentang sapi dan sawah. Maka, hubungan bapak dengan saudara-saudaranya tidak begitu baik. Pun demikian, bapak menjalin hubungan baik dengan semua sanak saudara lain (selain saudara kandungnya), bahkan dengan saudara-saudari di luar desa, di Singosari, Karangploso, dan Tulungagung. Menurut bapak saya, saudara-saudarinya itu terlalu mengaturnya; yang paling bapak sesalkan adalah tentang nasihat untuk tidak menjual warisan untuk membiayai saya kuliah dan sekolah adik. 
Berlawanan dengan pendapat saudara dan saudari kandung bapak saya, tetangga-tetangga yang dalam keseharian sering bekerja dan bercengkrama dengan bapak saya menilai saudara-saudari itu meninggalkan bapak saya. Pendapat ini mungkin didasari pengalaman mereka sehari-hari melihat bapak yang tidak pernah dikunjungi saudaranya lagi. Selain itu, tetangga-tetangga bapak berpendapat kurang begitu baik tentang paman saya Sirsan. Menurut cerita-cerita orang desa, paman Sirsan memang orang yang keras karena pangkatnya di masyarakat. Maka, jarang sekali ada orang mau bermasalah dengannya. Orang-orang cenderung tidak berinteraksi dengan paman. 
Jadi sebagai pihak netral, kadang saya mendapati cerita yang kurang baik tentang pihak 2 dari pihak 1. Segelintir orang dari pihak 2 kadang juga membicarakan hal serupa. Namun terlepas dari hal ini, saya senang kedua belah pihak bekerjasama membantu kami, dengan bapak saya yang tidak berdaya itu akhirnya diberi semacam "intervention" oleh saudara-saudarinya. Dalam musibah ini kedua pihak sesekali berinteraksi, namun saya masih mendengar cerita-cerita yang kurang baik dari satu pihak ke pihak lainnya. Ah, biarlah, memang kita manusia tidak sempurna. Saya ambil hal positifnya saja.

Intervention

Sejak pertamakali sampai di rumah, orang-orang selalu mengunjungi kami sekedar untuk menjenguk dan hanya memeriksa keadaan bapak. Kalau menjenguk, mungkin biasanya orang hanya akan datang sekali saja, namun di desa ini, orang-orang berdatangan terus-menerus.
Dulu, saya akrab dengan semua orang di desa sebelum masuk asrama di SMA. Sekarang, karena sudah lama tidak “srawung” atau menjaga komunikasi; silaturahmi saya dengan orang-orang khususnya tetangga-tetangga dan saudara-saudara kurang begitu baik. Maka, kemarin malam paman saya memanggil saya kerumahnya dan membicarakan beberapa hal terkait dengan hal tersebut -- semacam intervention dalam How I Met Your Mother. Jadi paman saya blak-blakan dan saya mengakui bahwa selama ini saya tidak sadar akan hal-hal ini.
Maka, setelah saya sehat 100%, saya akan “srawung” ke semua saudara-saudara dan orang-orang di desa. Kemarin saya sudah memulainya ke yang dekat-dekat saja, dan juga demikian pagi ini. Mungkin hari-hari kedepan hidup saya kembali ramai seperti dulu; harapannya begitu.

Paman Sirsan

Paman Sirsan yang memanggil saya kemarin, selain memberi “intervention” itu, di sisi lain juga seperti menyindir saya. Ia menelepon seorang temannya di sela-sela pembicaraan kami dan menjelaskan kepada temannya dengan suara jelas bahwa ia adalah yang membantu biaya perawatan rumah sakit bapak saya, sambil menyebut nominal yang ia berikan kepada keluarga kami. Yang saya sedikit kecewakan adalah bahwa ia tidak menyebut nominal yang tepat tentang biaya saya, yang sebenarnya adalah 9 juta namun sudah ditanggung Jasa Raharja, namun ia sebutkan 15 juta kepada temannya dan ia yang menanggung. Memang, keluarga saya berhutang pada keluarga paman dengan sawah sebagai penggantinya.
Mungkin hanya pikiran negatif diri sendiri. Jadi saya tidak memikirkan hal itu. Sekarang saya fokus untuk menjadi lebih baik untuk keluarga dan orang-orang di sekitar.