Monday, February 13, 2017

TRAINING DI TELKOM

JANUARI, 15, 2017

Saya menjalani masa training di 147 Telkom. Ada sekitar 20an orang di dalam kelas training itu. Saya merasa menjadi semakin akrab dengan mereka semua dan tiba-tiba saya merasakan suatu kekhawatiran. Perasaan ini sama seperti ketika saya menjalani kelas drama di masa kuliah. Saya merasa bahagia menjadi bagian dari kelas namun di satu sisi lain saya merasa sedih karena kebahagiaan itu tidak akan berlangsung selamanya karena kami akan berpisah ketika sudah selesai waktunya. Itu dulu, dan sekarang hal yang sama saya alami. Saya menyukai waktu bersama teman-teman di kelas training namun ada perasaan sedih pula karena kami mungkin akan berpisah setelah 11 hari kedepan. Menyikapi hal ini, saya mencoba untuk lebih menikmati dan “hidup” dalam kebersamaan di waktu yang ada karena memang beginilah hidup terus berlanjut. Dulu saya takut kesepian karena tidak bersama teman-teman dan lingkungan yang saya sukai namun rupanya sekarang saya memiliki lingkungan dan teman-teman baru yang saya sukai juga setelah berpisah dengan dunia perkuliahan. Satu hal yang menjadi keyakinan absolut adalah “Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk saya; The Lord take me to the place that I belong and deserve; Tuhan selalu menempatkan saya di tempat yang pantas dan baik untuk diri saya kedepannya.” Sungguh anugerah yang indah dan besar!!!!

Bagaimana Satu Hari Bisa Penuh dengan Beragam Perasaan

JANUARI, 5, 2017

pagi

Setelah merayakan ulang tahun mbak Nasya semalam, setelah kebahagiaan dan suasana hangat dalam kegembiraan itu, pagi ini saya bangun dengan senang hati. Saya senang sekali karena berjumpa dengan Rendi kawan baik saya. Kami mendatangi kantor Telkom Malang pagi ini untuk melamar pekerjaan. Disana kami berdua menerima keramahan satu guest officer yang amatcantik dan seorang resepsionis yang tak kalah molek juga. Namun tadi tidak jadi karena disuruh datang lagi besok. Lalu setelah itu saya berpencar, Rendi melamar pekerjaan di hotel sementara saya ke rumah Oni, satu kawan baik saya. Sudah lama tidak berjumpa, saya senang sekali dapat bercakap-cakap lagi dengan Oni ini apalagi soal kesamaan ide dan pandangan pada satu permasalahan masyarakat global ini. Disana juga tersedia PS 4 sehingga lumayan menyenangkan bisa bermain FIFA lagi. Disamping ini, ada pak Ainin yang sungguh ramah pada saya semenjak dahulu; rasanya senang sekali menjumpai kerabat yang sudah lama tidak berjumpa.

sore

Hujan turun deras. Saya terjebak di sebuah toko. Hendak membeli mantel kresek namun nampaknya tidak ada. Akhirnya saya menunggu hujan reda dan nampaknya hujan mendung putih. Setelah kurang lebih satu jam, hujan masih belum reda dan pemilik toko itu tiba-tiba memberi saya dan seorang lain yang juga “kejenggreng” mantel plastik. Saya berkata akan memakainya dan mengembalikannya esok hari namun orang itu menolak dan berkata supaya saya membawanya saja. Saya mengucap banyak terimakasih pada penolong ini; akhirnya saya bisa pulang melanjutkan perjalanan dan barang-barang di tas aman semuanya.

petang

Budhe dan pakpuh duduk di teras. Saya datang, makan lalu mandi air hangat. Setelah itu saya bergabung dengan budhe dan pakpuh mengobrol-obrol hangat tentang banyak hal. Hingga jam menunjukkan pukul 08:30 kami semakin ngantuk dan berniat mengunci gerbang.

malam

Tiba-tiba seorang pria yang lumayan saya kenali datang bertamu. Saya punya firasat tidak baik, namun langsung masuk ke kamar meninggalkan pakpuh, budhe, dan orang itu. Pada awalnya percakapan mereka bertiga baik-baik saja. Namun tiba-tiba nadanya semakin meninggi. Nampaknya ini sudah mulai masuk ke satu permasalahan rumah tangga yang serius. Pakpuh terdengar menutup pintu depan (mungkin melihat saya yang berada di bibir pintu kamar dan kelihatan dari luar). Saya merasa tidak enak dan menutup pintu kamar, namun dengan begitupun percakapan di luar masih bisa terdengar. Keadaan semakin memburuk; budhe terdengar kecewa dan menangis dan marah juga. Perasaan saya berdebar-debar. Sungkan bercampur aduk dengan ketakutan.
Oh Tuhan mengapa saya berada disini ketika terjadi hal ini?” demikian saya mengadu.

Sekarang saya menuliskan pengalaman satu hari ini, lalu mengantuk. Sepertinya saya akan tidur. Semoga demikian; dan besok pagi akan membuka lembaran hidup yang kosong lagi. Hidup berlanjut.



Titik Lelah

NOVEMBER, 22, 2016

Sampailah saya pada titik ini. Setelah berharap banyak pada lamaran-lamaran yang dikirim, sedihnya, semuanya sejauh ini tidak atau belum mendapat respon dari perusahaan. Belum ada panggilan atau mungkin memang sudah tidak terseleksi dan gagal. Setiap hari saya mengecek email dan mencari lowongan di situs-situs internet. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan pekerjaan, namun rupanya saat ini saya sungguh sangat lelah untuk terus mencari.


Pekerjaan memang selalu ada kalau dicari. Namun, terkadang terlintas di kepala saya kata-kata ini; “mengapa kita harus bersusah-susah mencari pekerjaan yang tidak akan membuat kita merasa hidup?” Saya berpendapat, manusia itu diciptakan bebas, dengan kekuatan dan kesehatan yang Tuhan berikan, semestinya ia dapat memanfaatkan seluruh kapasitas yang ada dalam dirinya untuk membuat hidupnya hidup, seperti seharusnya.

Susahnya mencari pekerjaan

NOVEMBER, 22, 2016

Seminggu yang lalu saya meninggalkan rumah untuk mencari pekerjaan di Malang. Saya dan Rendi datang di dua job fair dan telah meninggalkan banyak lamaran disana. Namun, hanya satu rupanya yang memberi kepastian, yakni sebuah perusahaan pialang saham. Kami mengikuti tiga tes dan diterima, bergabung bersama 11 calon pekerja lain. Saya sangat gembira karena diterima sebagai HRD, dan menceritakan hal ini kepada orangtua terutama karena setelah direkam sidik jari sebagai tanda diterima sebagai karyawan baru dan setelah diberitahu Senin minggu depannya sudah mulai training kerja. Namun rupanya pada hari Seninnya kacau. Bangun di pagi buta, bibi “menggupuhi” minta KTPnya segera dikembalikan, maka saya nekat ke Blitar dahulu dan rela terlambat di hari pertama. Maka jadilah demikian, pagi yang melelahkan setelah perjalanan Batu-Blitar-Malang yang untungnya dilengkapi dengan keramahan manajer. Rupanya tidak masalah; saya mengikuti lagi training itu dan belajar banyak hal tentang investasi saham.

Pada awalnya sungguh gembira hati dengan rasa penasaran tentang bagaimana menjadi HRD, namun rupanya pada akhirnya saya dan pelamar lain yang melamar pekerjaan berbeda-beda, dijadikan satu tim sebagai business consultant (BC) yang tugasnya mencari investor. Sampai disini, saya kecewa, dan langsung berniat ingin keluar keesokan harinya. Namun, setelah hari ini hadir lagi, saya ingin sedikit lagi menimba ilmu dari para manajer dan senior di kantor itu. Hal ini dikarenakan tidak adanya aktivitas lain dan menghibur diri dari kejenuhan sebagai pengangguran, disamping faktor utama yaitu menambah pengetahuan tentang bisnis trading LGD dan forex yang mungkin akan berguna suatu hari nanti. Jadi dari sini, saya tidak menyesal, justru saya bersyukur karena mendapat kuliah gratis mengenai investasi, pialang saham, dan trading di bursa berjangka internasional.


SATU MINGGU PENUH PENCERAHAN - late post

13 November 2016

1. Satu minggu yang Penuh Pencerahan

Minggu ini bisa dikatakan tidak begitu spesial, sama dengan minggu-minggu kebanyakan. Namun yang membedakan ialah bahwa saya merasa seperti mendapat petuah-petuah, atau pencerahan, atau bisa dikatakan sebagai ilham yang datang terus menerus. Hal pertama yang saya ingat adalah ketika saya sedang share keluhan saya mengenai kelemahan-kelemahan dan kecenderungan manusiawi yang tidak baik. Orang itu mengatakan satu kalimat yang sampai saat ini sangat mengena dan saya ingat: “Peliharalah rasa bersalah itu, karena itu tandanya hati kita masih belum keras.” Sungguh berkesan sekali malam itu; sampai saat ini kata-kata ini terus terngiang-ngiang di pikiran dan menjadi pengingat ketika dalam kelalaian.
Yang kedua adalah khotbah pastor dalam misa minggu pagi. Tidak begitu mengingat tentang topik apa yang dibicarakan, namu satu frase seperti menyangkut di awang-awang dan tidak bisa lepas dari pikiran. “Memurnikan diri,” demikian pastor itu berkata. Dua kata sederhana ini rupanya berkesan sekali dan serasa mengetuk hati dan menggiring pikiran mengingat kenangan masa lalu di saat pertamakali dibaptis hingga ketika menjalani pembinaan di seminari. Betapa murninya iman dan motivasi hidup waktu itu. Indahnya kemurnian batin!

2. Betapa Tuhan

Pagi ini saya terbangun dengan lemas; ada beban berat yang menumpuk di kepala. Pagi hari diguyur hujan, melengkapi suasana suram ini. Bahkan saya sampai tidak ingin menjumpai siapapun hari ini.
Namun, Tuhan menolong hari ini. Kini saya duduk di depan layar laptop dan melihat jam menunjukkan puku 10:13. Saya sekarang sudah bebas dari beban itu. Tuhan mengangkat beban saya, lewat pertolongan-Nya.

Betapa ajaibnya hari ini, seperti hari-hari lainnya. Allah Bapa di surga mengasihi saya.

Sunday, November 6, 2016

Pressure Drop

NP: Queen & David Bowie-Under Pressure, Toots & The Maytals-Pressure Drop

Pressure > Rasa takut.

4 tahun berjalan selama saya kuliah, seringkali pertanyaan "mau melakukan apa setelah lulus" menjadi semacam "bugaboo," momok yang seringkali meredupkan mood. Sekarang, setelah hari wisuda yang meriah itu perasaan takut itu sudah tidak ada karena hasrat untuk cepat bekerja atau menghasilkan uang mengalihkan perhatian pikiran. Ini berlangsung mulai seminggu setelah wisuda, setiap hari saya mencari lowongan pekerjaan di internet disamping mencari ide-ide untuk menghasilkan uang sesuai dengan bakat dan minat serta potensi yang ada di lingkungan sekitar. Kesibukan pikiran ini secara tidak sadar perlahan-lahan telah menggeser rasa takut untuk terjun ke dunia kerja. Sekarang saya justru ingin cepat kerja.

Diam terus di rumah mungkin menjadi penyebab bagi kebanyakan orang lain juga, terutama yang kurang kreatif seperti saya ��. Namun pendapat pribadi mengatakan adanya sesuatu semacam "sanksi sosial" apabila tak kunjung bekerja. Tetangga-tetangga dan sanak saudara kerapkali mengunjungi rumah dan secara tidak langsung menunjukkan bahwa mereka prihatin dengan keadaan saya dan mendorong untuk cepat bekerja. Hal ini membuat saya tertuntut, namun tidak tertekan. Saya sudah melakukan apa yang perlu saya lakukan. Hari-hari ini mungkin adalah penantian akan jawaban dari semua lamaran yang telah terkirim. Mungkin orang-orang tidak mentolerir "masa penantian" ini, namun ini tidak menimbulkan adanya tekanan yang sampai membebani pikiran, hanya perasaan terdorong untuk cepat bekerja. Lagipula orang-orang tak perlu khawatir karena saya sendiri ingin cepat bekerja karena satu motivasi besar: ingin mendapatkan uang sendiri untuk membayar langganan bulanan spotify, disamping ingin membeli kue/terangbulan terenak dengan gaji pertama. Hahaha

Friday, October 21, 2016

Euforia Wisuda (Semoga) Kegembiraan Seumur Hidup

Ditulis sehari setelah wisuda:


Euforia wisuda masih terasa hingga lebih dari 24 jam mulai dari saat setelah sidang ditutup. Sekarang saya sudah di rumah di Blitar, namun suasana hati masih dalam kegembiraan dalam kebersamaan dengan teman-teman di gedung Graha Cakrawala kemarin. Pada awalnya saya tidak begitu berekspektasi akan kemeriahan seperti ini. Saya pikir wisuda hanyalah sebuah acara seremonial biasa untuk meresmikan kelulusan. Bahkan, saya meminta ibu untuk berdandan biasa saja seperti hendak ke gereja di hari Minggu. Namun nampaknya bu Deny datang membuat hal ini tidak terjadi. "Kasihan Septian, acara wisuda itu meriah masak mamanya datang biasa-biasa saja," demikian ucap bu Deny. Beliau bersedia membantu persiapan tata rias ibu saya pada Sabtu pagi sebelum berangkat ke Graha Cakrawala. Bu Deny memang suka menyesuaikan penampilan dalam setiap kemeriahan, jadi kali ini beliau menerapkannya pada ibu saya.
Wisuda bersama tiga kawan terbaik


Saya berangkat ke kampus sekitar puku 6:15 dan disana sudah banyak wisudawan-wisudawati yang berkumpul, berbaris dan berjejal menunggu mulainya acara. Saya, Oni, Rendi, dan Satrio keluar barisan dan mencari udara segar di belakang. Lalu tak lama kemudian prosesi masuk dimulai dan kami berempat menyusul masuk tanpa barisan. Di dalam gedung, suasana sungguh meriah, para orangtua dan keluarga nampaknya sudah hadir mengisi semua tempat duduk di tepi.
Setelah beberapa menit, upacara dimulai dengan prosesi masuk para senat, rektor, dan dosen-dosen petinggi universitas. Saya melihat pemandangan ini sebagai suatu keindahan tersendiri; barisan para professor dan para pendidik berjubah dengan berkalungkan medali lambang kebesaran universitas tampak sangat gagah, hebat, dan mulia. Pemandangan ini selalu membuat saya kagum akan semangat dan dedikasi mereka dalam membangun dunia pendidikan menjadi lebih baik serta membaktikan hidup mendidik bangsa. Sungguh tepat sekali dalam lagu Hymne Guru, mereka disebut pahlawan bangsa. Sungguh gagah dan mulia! Menyaksikan semua kemegahan dan kemeriahan ini dengan duduk bersama kawan-kawan terbaik menjadi satu momen paling berharga dan berkesan di tahun ini; momen terbaik!
Kemeriahan dilengkapi dengan paduan suara, gamelan, dan orkestra yang bagus. Seluruh sarana-prasarana dalam upacara wisuda ke 83 juga tertata dan terorganisir dengan sangat baik. Salut kepada semuanya yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan seremoni ini. Kesempurnaan di setiap elemen menciptakan suatu euforia wisuda, yang bagi saya sangat kuat hingga kegembiraan ini bertahan hingga saat ini ketika saya mengetik teks ini. Tidak ada yang dapat mengusik hati saya, meskipun kemarin saya sempat terjebak dalam kemacetan, lalu pagi tadi ketika dalam perjalanan ke Blitar, ada beberapa pengguna jalan yang dungu, yang biasanya membuat jengkel. Namun, apapun situasinya, euforia kegembiraan ini terasa seperti gumpalan bola kristal yang bercahaya di jiwa. Seperti itulah saya membayangkannya, hahaha.
Jadi wisuda ini sungguh terasa melekat, menggembirakan, membuat saya terkagum, dan membangkitkan semangat dan sukacita akan hidup. Ini mengingatkan saya akan "Symphony No. 9" mahakarya Beethoven, atau biasa disebut "Ode to Joy", sebuah paduan orkestra dan koor yang mendendangkan lagu kegembiraan umat manusia, mengajak dunia untuk bergembira, bersukacita, dan bersyukur atas nikmatnya kehidupan dan indahnya bumi tempat Allah memelihara umat-Nya. Betapa indahnya.....
Musik ini menjadi lagu kemenangan bagi saya, yang biasa saya putar ketika dalam suasana gembira seperti sekarang ini. Namun, rupanya makna lagu ini bukan hanya suatu kegembiraan euforia saja, namun suatu kegembiraan sepanjang hidup. Seperti yang semua orang inginkan, saya ingin membuat hidup saya penuh kegembiraan, derma, dan sukacita, seperti yang tertulis pada lirik "Ode An Die Freude" ini. Sungguh indah kehidupan yang penuh perayaan, selebrasi! Betapa hidup akan jauh lebih berarti bila saya menjalaninya dengan kegembiraan!

Semoga anda juga menjalani kehidupan yang penuh kegembiraan!!!