Sunday, August 6, 2017

Perubahan Sistem Kerja

Pada minggu ini, peraturan di tempat kerja berubah. Karyawan masuk mulai jam 10, lebih siang daripada biasanya. Namun, dengan perubahan ini maka gaji lemburpun tidak ada, meskipun pulang larut malam. Atau, jika ada , gaji lembur akan sangat sedikit dan itupun mungkin hanya terjadi di akhir bulan, dimana selalu terdapat pekerjaan lebih dari biasanya. Hal ini tidak masalah bagi saya pada awalnya, karena mengetahui jam kerja yang lebih siang, maka saya dapat melakukan banyak hal lain di rumah. Namun, kenyataannya berbeda. Biasanya dengan masuk pagi, kami dapat menangani berkas-berkas di hari kemarin dan mengecek dokumen-dokumen untuk transaksi di waktu mendatang. Setelah sistem baru ini diterapkan, kami tak ada lagi waktu untuk hal itu, padahal jika tidak menyelesaikannya, kami sendiri yang akan “keteteran” dan salah, terutama sebab karena itu ialah kewajiban kami. Untuk mengatasi hal ini, saya terpaksa membawa pekerjaan ke rumah untuk melakukan koreksi dan menata dokumen-dokumen transaksi. Hal serupa nampaknya juga dilakukan oleh rekan kerja saya, karena memang sudah tidak ada waktu lagi di kantor untuk melakukannya.

Ini menjadi satu hal besar yang seringkali memenuhi pikiran saya. Jam kerja dikurangi, namun pekerjaan tetap dan bahkan bertambah banyak. Tidak mendapat lemburan namun tetap bekerja meskipun sudah di rumah. Mengatasi hal ini, saya mencoba untuk berpikir positif dengan membaca cerita pekerja-pekerja di ibukota yang mengalami hal serupa, atau mendengar cerita teman, sanak-saudara dan tetangga tentang kesulitan mereka di tempat kerja. Hal ini cukup membantu, karena membuat saya merasa tidak sendirian. Namun, tetap saja, ada semacam perasaan tertindas oleh korporat dan sistem yang dibuatnya. Ditambah, sehari-hari saya memiliki angan-angan untuk berwirausaha dan menjalani hidup yang bebas (tidak ikut orang/ perusahaan) serta simpel. Atau, menjadi seorang pegawai negeri sipil. Dua hal diatas menurut saya ialah solusi atas kegelisahan selama ini. (Dulu padahal saya memiliki mimpi menjadi orang besar dan terkenal, namun rupanya yang saya idamkan kini ialah kemapanan sebagai PNS atau wirausahawan yang sukses. Sungguh ironis memang; hahaha). Nah maka dari itulah saya merasa  “diakali” oleh korporat. Saya tahu satu hal yang menjadi tujuan para korporat ialah hasil maksimal (kerja bagus dari karyawan dan profit besar) dengan pengeluaran minimal (pengeluaran untuk gaji karyawan sedikit). Sungguh pintar mereka itu. Dengan sistem baru ini maka mereka tak pelu membayar meskipun karyawan pulang larut, namun tetap mendapatkan hasil maksimal karena karyawan tetap (terpaksa) bekerja di luar jam kerja kantor (mengerjakan di rumah). Merekapun tak ambil pusing soal masa depan karyawan. Mereka orang besar. Nah, bagaimana dengan saya? Saya pusing dan lemas tiapkali melihat tumpukan-tumpukan berkas itu. Namun saya berusaha maksimal hingga memohon dalam doa supaya Tuhan membantu saya dalam menyelesaikan tanggungjawab-tanggungjawab itu. Demikianlah hari demi hari saya berusaha sampai “mentok”, hingga mata kedutan karena saking lelahnya dan kepala pusing bukan kepalang.

Pencerahan

Akhir pekan ini, terutama hari ini, sebuah pencerahan datang. Dalam lamunan saya berkata dalam hati;

Ohya, kenapa sih saya mau berpikir pusing-pusing dan diakali terus. Bukankah selain kewajiban saya juga punya hak?” Mengapakah saya takut akan peraturan dan penghakiman manusia? Bukankah seharusnya saya hanya takut akan penghakiman dari Tuhan?”

Sungguh, hai kawan, ketika cobaan terasa berat, bersandar pada Tuhan atau memunculkan perasaan tunduk dan takut akan Tuhan ialah jawaban dan satu-satunya jalan terbaik.

Mengapakah saya berusaha hingga menguras seluruh tenaga saya untuk sesuatu yang bersifat duniawi? Bukankah saya seharusnya mengejar hal-hal surgawi dan berusaha untuk hidup berkenan bagi Allah?Tuhan telah menunjukkan bahwa Ia memelihara saya dan keluarga saya, jadi seharusnya saya tak perlu khawatir akan apapun yang terjadi kedepannya.

Kata-kata diatas sungguh menghibur dan melegakan. Namun, meskipun berasal dari dalam hati saya sendiri (bukan nasehat orang), tidak mudah untuk melakukan seperti yang hati saya katakan tersebut. Seringkali ketika kesulitan datang , hati saya mudah gentar dan pikiran kacau dengan mudahnya. Jadi untuk saat ini, saya akan bekerja seperti biasanya, namun saya akan kembali memperhatikan diri saya sendiri dan mengerjakan sebisa saya sesuai dengan waktu yang diberikan oleh perusahaan di kantor.






Saturday, July 15, 2017

Kehidupan Yang Simpel Atau Sederhana

Ini juga hal yang sangat saya inginkan, yang sangat amat saya butuhkan. Saya ingin hidup yang tidak muluk-muluk. Saya ingin tetap bisa mencari nafkah namun dekat dengan handai taulan dan memiliki kebebasan.

Waktu untuk berkumpul dengan orang-orang tercinta,
kawan-kawan terdekat,
dan waktu untuk diri sendiri untuk melakukan kegiatan yang disukai


Sungguh kehidupan yang indah!

HP IDAMAN

Hal yang saya inginkan biasanya ialah yang sangat saya butuhkan. Saat ini saya sangat membutuhkan smartphone baru dengan spesifikasi yang memadai. Jam kerja yang padat dan seringnya memakai koneksi internet dan telepon membuat saya kewalahan karena gadget yang saya pakai masihlah Galaxy Ace 3, ponsel lawas yang spesifikasinya sangat tidak memadai itu. Baterai yang boros berserta RAM kecil seringkali merepotkan saya dalam pekerjaan dan aktivitas lainnya. Maka, beberapa waktu kedepan ini saya akan menabung dan tidak makan 2 bulan untuk membeli sebuah smartphone yang tidak terlalu mahal namun spesifikasinya mendukung. Hehe

Pilihan saya pertama jatuh pada Xiaomi Note 4x yang berharga di kisaran 2 ribuan namun memiliki spesifikasi 'dewa' yakni dengan layar lebar 1080p full HD, RAM 2-4 GB, baterai 4000 mAh, kamera 13 MP & 5 MP, serta konektivitas 4G , ROM besar serta prosesor Snapdragon yang tangguh. Pada rentang harga tersebut, smartphone ini ialah yang terbaik spesifikasinya. Saya berencana membelinya pada akhir bulan ini. Namun, setelah berjumpa seorang teknisi yang melakukan perbaikan di tempat kerja, saya berubah pikiran. Ia menyarankan untuk menaikkan budget sedikit untuk membeli ASUS Zenfone 3 Max, yang tangguh dengan spesifikasi lebih dari sama dengan Xiaomi Note 4x. Kekurangan dari Xiaomi terletak pada kamera. Zenfone 3 Max unggul jauh dalam kamera karena dilengkapi mode manual yang memungkinkan pengguna untuk memotret layaknya menggunakan kamera DSLR. 

Hmm, by the way saya tidak sadar melakukan review smartphone. Maafkeun!

Jadi intinya saat ini saya akan lebih semangat lagi bekerja demi gadget idaman ini. Ohya, ponsel yang rencananya saya beli pada akhir bulan Agustus ini nanti juga akan menjadi saksi dan bukti bahwa saya bisa survive dengan pekerjaan ini. 

Perjuangan sedang berlangsung! Semangat!! Tidak makan 2 bulan tak masalah karena saya makan terang bulan bukan 2 bulan.




Oposeh
Garing?
Hehe maafkan. Saya terlalu bersemangat.

Akhir Pekan Maksimal

Untuk akhir pekan ini, saya telah berencana melakukan beberapa hal yang sudah saya list. Syukurlah selama satu hari yang panjang ini saya dapat memenuhinya, sekaligus memanfaatkan waktu luang secara maksimal.
Hal pertama ialah menanam biji cabai, lavender dan lidah buaya. Setelah membersihkan rumah, saya mandi lalu hendak berkebun menanam biji cabai di polybag. Namun setelah mendapat kabar tentang bibi yang opname, saya membatalkannya. Maka saya dan ibu pergi ke kota Blitar menjenguk bibi di RS. Setelah kurang lebih satu jam disana, kami pergi ke toko bunga untuk membeli bibit lavender dan lidah buaya. Kami mendapatkannya. Saya membeli dua tanaman lavender dan satu lidah buaya. Selanjutnya kami mampir ke sebuah kios untuk membeli madu hutan. Setelah itu perjalanan berlanjut ke toko perkakas bengkel untuk membeli pompa, yang ternyata tidak ada sehingga kami langsung pulang dan sampai di rumah pada jam 11-an. Saya menghentikan motor sebentar dam mampir di kios kecil untuk membeli es krim Aicee. 
Karena sudah siang sampai rumah dan lelah, ditambah udara dan sinar matahari yang sudah terik, maka saya tidak jadi menanam bibit cabai. Lavender dan lidah buaya sudah tertanam di polybag dan hanya perlu pindah media tanam. Rencananya, besok pagi saya akan menanam bibit cabainya.


Aktivitas saya selanjutnya tidaklah banyak. Saya tidur nyenyak selama beberapa jam lalu bangun pukul setengah empat dan mulai berolahraga. Pada awalnya hanya ingin mengambil uang di ATM, namun akhirnya saya pakai untuk olahraga sekaligus dengan naik sepeda. Bersepeda di sore hari tidak begitu menyenangkan karena banyak pengguna jalan. Sebenarnya waktu yang tepat adalah siang hari, di kala terik-teriknya matahari dan jam-jam kerja sehingga sedikit orang berlalu-lalang di jalan.
Bagaimanapun, bisa bersepeda ialah suatu hal yang sangat pantas disyukuri, terutama karena dalam lima hari saya tidak melihat hari (dunia luar, dan langit biru) [tak tahu petang atau hari, hujan atau terikpun tidak tahu]. Bersepedapun juga mengajarkan saya untuk sabar. Alon-alon sing penting kelakon (pelan-pelan yang penting terlaksana). Selain itu, karena biasanya naik kendaraan bermotor dan bebas mengatur kecepatan yang diinginkan, bersepeda terasa seperti mengajarkan supaya saya harus sabar karena akan lebih lama mencapai tempat tujuan, dan juga supaya menyesuaikan ekspektasi dan kapasitas. Bersepeda berbeda dengan mengendarai motor. Saya harus menyesuaikan ekspektasi kecepatan dengan kapasitas fisik saya yang terbatas. Mungkin dalam kehidupan juga harus begitu, hehe. 


Saya mampir di seminari, sekolah almamater saya, dan berlari memutari lapangan sebanyak tiga kali lalu beristirahat karena sangat lelah dan ngos-ngosan. Setelah itu saya pulang, melewati jalan kecil di tengah-tengah area persawahan. 



Sungguh hari yang indah! Saya merasa lega hari ini karena dapat memanfaatkan akhir pekan dengan maksimal. Syukur kepada Allah!!!!!!!

Minggu Yang Berat dan Kesaksian

Awal minggu adalah pukulan hebat bagi karir saya. Bos saya memberi peringatan karena ada banyak sekali ketidak lengkapan dokumen yang sudah saya periksa. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya atas kinerja saya yang sembrono. Saya sendiri mengakui ketidaktelitian itu karena fokus pada belajar melakukan input data dan mengesampingkan tanggungjawab sebagai verifikator dokumen.


Sebagai pertanggungjawaban, saya diberi waktu dua minggu (minimal sebelum akhir minggu depan) untuk meminta MMS (bagian orang lapangan) melengkapi dokumen-dokumen yang kurang. Masalahnya adalah bahwa dokumen yang kurang lengkap itu ialah transaksi bulan Juni yang lalu. Sulit mendapatkan respon dan bantuan dari MMS untuk melengkapi kekurangan dokumen-dokumen tersebut karena mereka sendiri sudah sibuk dan sedikit waktu untuk mencari arsip transaksi bulan lalu.

Pikiran saya amburadul tak karuan karena hal ini. Pekerjaan sehari-hari sudah cukup memusingkan, ditambah beban ini. Muncul di pikiran saya untuk pasrah dan meminta bos memecat saya, supaya saya bisa kembali menjadi freelancer atau memenuhi panggilan suatu instansi.  “Jika saya keluar dan menyetujui perjanjian dengan instansi itu, saya tidak akan pulang petang setiap hari seperti ini.” Pekerjaan saat ini memang seringkali membebani pikiran terutama karena jam kerja 12 jam (dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam normalnya {akhir bulan bisa sampai jam 10 malam}). Jika menjadi karyawan di instansi itu, saya akan dapat pulang jam 4 setiap hari rata-ratanya, dengan hari kerja sampai hari Sabtu. Akan tetapi, saya pikir ini bukan hal yang tepat dilakukan.

Memang dua hari di awal minggu ini menguras semangat dan tenaga; setiap hari ketika berangkat saya tidak bersemangat. Melihat orang-orang plat merah membuat iri hati (jam kerja dan kesejahteraan). Lalu ketika melihat orang-orang yang berwirausaha saya mbatin betapa mereka bebas dan tidak terikat seperti diri saya saat ini.

Melihat tumpukan berkas yang tidak lengkap itu benar-benar memusingkan. Sungguh ini menjadi momok. Saya lesu setiap hari dan lemas setiap berangkat ke kantor. Pikiran untuk resign terus mendorong saya. Namun, tiap kali saya mengeluh, ibu memberi nasehat untuk bertahan dulu sebisa mungkin. Saya yang sudah tidak punya semangat akhirnya menempuh suatu jalan terakhir.

Saya bersujud kepada Allah, mengakui ketidakmampuan dan keterbatasan diri untuk menanggung beban itu. Saya memohon ampun untuk dosa-dosa hina yang saya lakukan di minggu-minggu sebelumnya. Saya memohon belaskasih Allah karena telah berbuat keji dan jahat karena telah menghujat-Nya dengan pikiran-pikiran dan perbuatan yang hina-dina. Saya memohon kekuatan pada Dia yang empunya kuasa terbesar di alam semesta ini. Saya bersujud dan menyembah-Nya. Pagi-pagi sebelum berangkat dan di malam hari setelah pulang saya bersujud.

Saya juga mendengarkan sabda-Nya, terutama tentang bagaimana Allah menjanjikan kebahagiaan dan kehidupan bagi hamba-hamba-Nya yang takwa. “Allah memberkati Abraham, Ishak, Yakub, dan keturunannya. Allah menjanjikan mereka rencana besar-Nya pada diri mereka. Maka aku akan memohon ampun pada-Nya. Aku juga akan memohon supaya Ia membantuku dalam kesulitan, karena kuasa-Nya tak terbatas, kuasa-Nya yang terbesar di semesta ini. 

Lalu saya juga mendapatkan beberapa kutipan dan permenungan orang-orang akan Sabda Allah:


“Manusia tidak bisa menyenangkan Allah dan yang bukan Allah yaitu iblis dan para pengikutnya di saat yang bersamaan.”(In Ezechielem Homiliae, 9).

“Dengan sungguh-sungguh Yakub berjuang dalam pergulatan hidupnya bersama dengan Allah. Sesudah pengalamannya yang mendalam, pandangan Yakub tentang Allah berubah. Dia pun mendapatkan berkat melimpah.”

“Pandangan Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut, dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

“Demi keselamatan hidup kalianlah, Allah menyuruh aku mendahului kalian ke Mesir.” (Kata-kata Yusuf kepada saudara-saudaranya yang dulu berbuat jahat padanya)

“Sebelum menjadi pembesar di Mesir, Yusuf mengalami banyak penderitaan akibat kejahatan saudara-saudaranya. Namun di dalam semuanya itu Yusuf melihat rencana besar Allah untuk memelihara kehidupan keluarganya.

“Kita bisa mengeluh karena semak-semak mawar memiliki duri/ bersukacita karena semak duri memiliki mawar.”


Kutipan-kutipan ini ialah berasal dari buku renungan dalam beberapa hari. Setelah saya kembali kepada Allah dan membaca sabda-Nya setiap hari, kutipan-kutipan ini terus melekat dalam kepala, dan menyatu dalam sebuah rangkaian yang beriring-iringan bersuara dalam hati.

Pertama, saya sadar bahwa selama ini setengah-setengah dalam ketaatan. Saya tidak total dalam mengabdi Allah. Sebagai hamba seharusnya saya hanya menyenangkan Allah semata dan selalu mengingat-Nya setiap saat sehingga akan terhindar dari dosa. Kedua, dalam masa kesulitan seperti ini seharusnya saya seperti Yakub, yang berjuang bersama Allah dalam setiap pergumulan hidupnya. Ketaatan adalah yang utama, karena Ia akan memerhatikan mereka yang takwa dan memelihara mereka di kala “kelaparan”. Saya harus lebih takwa pada Allah supaya Dia memelihara saya di masa “kelaparan” atau dalam kesulitan ini, serta percaya bahwa Allah telah merencanakan sesuatu yang besar bagi saya, seperti Yusuf melihat bahwa segala kesulitan yang ia hadapi adalah rencana Allah untuk memelihara kehidupan keluarganya dan keturunannya. Yang terakhir, dalam kesulitan ini saya menyadari bahwa saya bisa memilih bersukacita karena ada harapan di masa kesusahan ini. Harapan untuk bisa meraih kesuksesan di masa depan sebagai wirausahawan, harapan untuk bisa membahagiakan keluarga, dan harapan untuk menjadi insan yang berguna bagi orang banyak.

Namun, diatas semua harapan itu, saya percaya bahwa Allah memelihara saya, saya tak perlu khawatir. Allah memelihara Abraham serta keturunannya. Dia juga akan memberkati hidup saya. Semut dan burung pipitpun Ia pelihara, apalagi manusia makhluk yang paling Ia cintai.

Saya tak perlu khawatir masa depan. Allah telah menyiapkan semuanya.

Bantuan

Dengan bersujud dan menyerukan nama Allah, hati saya lebih tenang. Pikiran sayapun lebih jernih. Saya perlahan bisa mencicil tanggungan-tanggungan itu. Allahpun telah membantu saya, lewat bu Ira, orang tertinggi di wilayah operasional daerah ini, yang mengimbau anak buah MMSnya untuk melengkapi beberapa dokumen. Saat ini, beberapa dokumen sudah saya terima. Masih ada banyak kelengkapan yang belum saya dapatkan, namun sekarang saya lebih tenang dan percaya karena telah menyaksikan bagaimana Allah membantu saya dalam kesulitan dan menghibur kala saya bersusah hati.

“Mulialah Allahku, Allah Yang besar, Allah yang kudus, Allah yang Kekal dan berkuasa untuk selama-lamanya!!!

“Orang tertindas berseru, didengarkan Tuhan dan diselamatkan Tuhan dari segala derita.”


���'

Thursday, June 29, 2017

Pernak-pernik Juni, Ramadhan dan Lebaran

Bulan Juni menyuguhkan saya berbagai macam pengalaman berharga dan tidak terduga. Selama setahun saya masih menjalani hal yang sama; tak kunjung mengalami perkembangan signifikan dari keterpurukan. Bulan ini dapat dikatakan sebagai titik balik yang sangat berarti dalam kehidupan saya.

Naik Level

Di bulan ini saya merasa naik level karena mendapatkan pekerjaan. Meskipun sampai saat ini masih merasa kewalahan dengan pekerjaan itu, namun setidaknya saya sudah bekerja. Di bulan lebaran ini, saya berkesempatan menjadi yang memberi (uang saku/sangu/angpao) kepada keponakan-keponakan; hal ini sangat menggembirakan, sebab saya bisa benar-benar merasa naik level menjadi orang dewasa, hahaha.

Momok Pekerjaan, Mimpi Buruk !

Di liburan ini, saya khawatir dengan waktu yang berlangsung dengan cepat. Tidak lama lagi liburan akan habis. Saya masih mendapat mimpi buruk, yakni mimpi kewalahan menangani pekerjaan administrasi yang rumit. Ini adalah momok terbesar saat ini. Jujur saya tidak begitu menikmati pekerjaan di ruangan itu, yang memeras pikiran dan konsentrasi. Namun, kerja dimana yang tidak “tidak enak” ?, demikian kata orang. Saya setuju; kerja itu memang harus tirakat. Orang berhasil tidak selalu mengawali langkah mereka dengan kemudahan. Perasaan takut dan tidak nyaman akan pekerjaan kerapkali terbawa sampai tidur. Sungguh benar-benar momok yang menakutkan!

Semangat Handai Taulan

Hari pertama lebaran, keluarga besar berkumpul di rumah, kecuali ibu yang masih bekerja hingga hari keempat lebaran. Perjumpaan dengan sanak saudara selalu membuat saya gembira dan damai. Saya senang rumah penuh dengan anggota keluarga besar. Kesempatan seperti ini jarang sekali terjadi. Kami semua tidak selalu bercakap-cakap. Namun, keberadaan mereka semua di rumah memberikan suasana damai, gembira, dan aman di hari raya ini. Mengenai ketakutan akan pekerjaan, saya mendapat masukan dan dukungan dari budhe dan yang lain; yang intinya ialah supaya saya tetap bertahan dan menekuni pekerjaan ini.

Oni Ke Blitar!

Salah satu anggapan yang salah tentang kehidupan setelah lulus kuliah:
Kau akan mendapatkan banyak teman baru dan teman baik!
Salah!
Saya menyetujui pernyataan diatas. Setelah lulus, saya memang tidak terlibat berbagai komunitas atau organisasi, namun sering berinteraksi dengan banyak orang dan mendapatkan banyak teman baru setiapkali menjalani tes-tes di perusahaan-perusahaan ataupun di acara-acara. Namun, sekian lamanya waktu tidak bertemu dengan kawan-kawan semasa kuliah membuat saya merasa terpencil, terisolasi. Ingin rasanya berkumpul dengan teman-teman kuliah dulu, atau sahabat semasa SMA. Jadi kesempatan sekecil apapun sungguh sangat berharga, seperti kemarin lusa saya dapat berjumpa dengan Oni, kawan baik saya yang kebetulan sedang bersilaturahmi dengan saudaranya di Blitar. Itu hanyalah perjumpaan singkat dan sederhana, namun membuat pikiran kembali positif dan terhibur (setelah merasa terisolasi, dan jatuh bangun sendiri serta jauh dari kawan-kawan dekat dan seperjuangan di masa kuliah dahulu). Senang mendapati diri sendiri dapat berjumpa lagi dan bercakap-cakap dengan kawan baik. Sungguh suatu hal yang jarang dapat terwujud; perjumpaan berarti dan meneguhkan semangat hidup!

Padatnya Agenda

Lama hidup di desa membuat saya terbiasa dengan jadwal lebaran yang selalu padat dari tahun ke tahun. Orang-orang disini selalu melakukan silaturahmi dengan sanak saudara (baik saudara dekat maupun jauh), lalu kepada para orang tua (saudara/i kakek/nenek), para tetangga (satu desa), dan teman-teman dekat. Orang mengenal istilah “kemput” atau komplit, yang berarti sudah bersilaturahmi dengan semua sanak saudara, para orang tua, dan tetangga satu desa (semua rumah di desa). Jadi meskipun sudah lebaran hari ke 5 atau 6, atau bahkan setelahnya, di desa masih ramai dengan lalu-lalang orang-orang badan, atau bersilaturahmi. Di hari ke 5 lebaran ini, keluarga saya masih belum kemput, masih akan dilanjutkan lagi besok karena sudah larut namun masih banyak tetangga lain yang masih belum kami kunjungi. Lebaran yang padat dengan silaturahmi seperti ini ialah yang saya rindukan setiapkali hari raya Idul Fitri. Saya senang dan gembira dengan kesempatan berharga ini. Ada banyak berkah yang didapatkan, seperti menjaga tali persaudaraan dengan sanak saudara dekat dan jauh, membuat perasaan gembira dan bahagia karena bertemu banyak orang, dan tentu menambah pengalaman dan wawasan (lewat percakapan dalam silaturahmi). Sungguh bulan yang penuh berkah!


Masih Banyak Lagi Hal Berkesan… Namun Saya Sudah Lelah untuk Menceritakannya

Mungkin akan saya tambahkan pada postingan selanjutnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Mohon Maaf  Lahir dan Batin!


Friday, June 16, 2017

Lelahnya Bekerja dan Akhir Pekan Sebagai Manusia

Syukur alhamdulillah saya sekarang sudah diterima bekerja di sebuah bank sebagai staf administrasi. Sudah lebih dari seminggu ini saya bekerja sekaligus training. Saya sangat bersyukur karena setelah sekian lama menganggur saya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Pun demikian, saya merasa pekerjaan ini sungguh berat.

Setiap hari jam 07:45 semua karyawan harus berkumpul di kantor. Setelah itu dilakukan briefing dan selanjutnya mulai bekerja. Sebagai staf administrasi, saya harus menunggu laporan dari bagian marketing atau mereka yang bekerja mengurus nasabah. Jadi rata-rata mereka mengirimkan laporannya sore hari padahal jam 19:00 sistem sudah tidak bisa dipakai. Hal ini membuat saya keteteran dan kewalahan terus. Saya bertanggungjawab pada penginputan data untuk dua wilayah marketing; karyawan lama lainnya sudah memegang empat. Namun, meskipun hanya dua, saya sangat kewalahan dan seringkali kacau, apalagi berkas-berkasnya begitu banyak dan saya masih bingung untuk menggolongkannya.

Pikiran saya tertekan setiap hari. Angka-angka membuat saya pusing dan mual di perut. Sebelumnya saya hanya berhadapan dengan kata-kata, namun kini harus mengurus angka-angka. Saya pikir saya masih beradaptasi, namun saya juga merasa tidak mampu dengan banyaknya berkas yang harus saya selesaikan setiap harinya. Pada hari Jum'at kemarin, saya mencapai titik "tidak krasan" karena ada begitu banyak berkas yang belum saya selesaikan dan masih terdapat ketidakcocokan dengan sistem, ditambah komputer yang error setiap kali saya hendak menyelesaikan tugas saya. Saya berdoa dan memohon belas kasih Tuhan. Saya juga mengutarakan rasa keberatan saya pada pekerjaan ini. Setelah beberapa waktu, saya merasakan suatu keajaiban. Seorang senior (di tengah menumpuknya pekerjaannya, menyempatkan) membantu saya dan menunjukkan cara cepat menyelesaikan berkas yang belum fixed. Saya sungguh merasa lega karena sebelumnya saya mual dan pusing, namun setelah itu pikiran menjadi terang kembali. Alhamdulillah! Puji Tuhan!!!!

 Hal lain disamping rumitnya pekerjaan administrasi ialah jam kerja. Setiap hari kerja saya pulang rata-rata jam 8 malam. Jadi selama seharian penuh saya berada di dalam ruangan. Setiap berangkat saya merasa berat. Lampu merah saya harapkan menyala lebih lama. Saya merasa tidak rela meninggalkan dunia luar dan langit yang biru.  Jadi setelah sampai di kantor, saya tidak akan tahu petang atau hari, hujan atau terik. Dunia luar tidak dapat dilihat dari dalam ruangan itu. Jadi, akhir pekan ialah saat yang sangat menggembirakan. Saya bisa menjadi manusia lagi seutuhnya (anggap saja selama weekdays saya menjadi robot atau mesin, hahaha). Saya bisa tidur puas dan bangun agak siang, bisa bermain game, bisa menulis di blog seperti ini lagi, dan bisa melihat langit biru dan alam yang indah ini.

Yeaahhhh! Ini sungguh menggembirakan!!!!!!!!! Syukur kepada Allah!!!!!

Saya lega namun di dalam hati masih merasa gentar. Hari Jumat kemarin memang sedikit terjadi transaksi, jadi laporannya tidak banyak; namun saya sudah sangat kewalahan. Saya masih ragu untuk menghadapi hari Senin-Kamis minggu depan. Namun, untuk saat ini saya percaya pada kekuatan doa, pertolongan rahmat Ilahi yang bekerja dalam setiap kesulitan. Ditambah, dukungan dari keluarga dan teman-teman membuat saya tidak rela apabila menyerah. Jadi hari Senin hingga Kamis minggu depan masih misteri. Namun, dengan pertolongan Tuhan dan sedikit persiapan saya pada hari kemarin, saya optimis bisa mengikuti ritme cepat dan padat minggu depan.

Mungkin ini ironis karena sebelumnya saya posting tentang keinginan untuk berwirausaha. Mimpi itu masih ada sekarang ini. Sementara ini saya melakukan pekerjaan ini untuk menambah pengalaman dan mempersiapkan diri untuk mewujudkan impian sebagai enterpreneur itu (sebut saja modal, mental, dan wawasan, haha).

Demikianlah, kawan! Semoga perjuanganmu juga diberkahi dan lancar !! Aminn