Ini juga hal yang sangat saya inginkan, yang sangat amat saya butuhkan. Saya ingin hidup yang tidak muluk-muluk. Saya ingin tetap bisa mencari nafkah namun dekat dengan handai taulan dan memiliki kebebasan.
Waktu untuk berkumpul dengan orang-orang tercinta,
kawan-kawan terdekat,
dan waktu untuk diri sendiri untuk melakukan kegiatan yang disukai
Sungguh kehidupan yang indah!
Saturday, July 15, 2017
HP IDAMAN
Hal yang saya inginkan biasanya ialah yang sangat saya butuhkan. Saat ini saya sangat membutuhkan smartphone baru dengan spesifikasi yang memadai. Jam kerja yang padat dan seringnya memakai koneksi internet dan telepon membuat saya kewalahan karena gadget yang saya pakai masihlah Galaxy Ace 3, ponsel lawas yang spesifikasinya sangat tidak memadai itu. Baterai yang boros berserta RAM kecil seringkali merepotkan saya dalam pekerjaan dan aktivitas lainnya. Maka, beberapa waktu kedepan ini saya akan menabung dan tidak makan 2 bulan untuk membeli sebuah smartphone yang tidak terlalu mahal namun spesifikasinya mendukung. Hehe
Pilihan saya pertama jatuh pada Xiaomi Note 4x yang berharga di kisaran 2 ribuan namun memiliki spesifikasi 'dewa' yakni dengan layar lebar 1080p full HD, RAM 2-4 GB, baterai 4000 mAh, kamera 13 MP & 5 MP, serta konektivitas 4G , ROM besar serta prosesor Snapdragon yang tangguh. Pada rentang harga tersebut, smartphone ini ialah yang terbaik spesifikasinya. Saya berencana membelinya pada akhir bulan ini. Namun, setelah berjumpa seorang teknisi yang melakukan perbaikan di tempat kerja, saya berubah pikiran. Ia menyarankan untuk menaikkan budget sedikit untuk membeli ASUS Zenfone 3 Max, yang tangguh dengan spesifikasi lebih dari sama dengan Xiaomi Note 4x. Kekurangan dari Xiaomi terletak pada kamera. Zenfone 3 Max unggul jauh dalam kamera karena dilengkapi mode manual yang memungkinkan pengguna untuk memotret layaknya menggunakan kamera DSLR.
Hmm, by the way saya tidak sadar melakukan review smartphone. Maafkeun!
Jadi intinya saat ini saya akan lebih semangat lagi bekerja demi gadget idaman ini. Ohya, ponsel yang rencananya saya beli pada akhir bulan Agustus ini nanti juga akan menjadi saksi dan bukti bahwa saya bisa survive dengan pekerjaan ini.
Perjuangan sedang berlangsung! Semangat!! Tidak makan 2 bulan tak masalah karena saya makan terang bulan bukan 2 bulan.
Oposeh
Garing?
Hehe maafkan. Saya terlalu bersemangat.
Akhir Pekan Maksimal
Untuk akhir pekan ini, saya telah berencana melakukan beberapa hal yang sudah saya list. Syukurlah selama satu hari yang panjang ini saya dapat memenuhinya, sekaligus memanfaatkan waktu luang secara maksimal.
Hal pertama ialah menanam biji cabai, lavender dan lidah buaya. Setelah membersihkan rumah, saya mandi lalu hendak berkebun menanam biji cabai di polybag. Namun setelah mendapat kabar tentang bibi yang opname, saya membatalkannya. Maka saya dan ibu pergi ke kota Blitar menjenguk bibi di RS. Setelah kurang lebih satu jam disana, kami pergi ke toko bunga untuk membeli bibit lavender dan lidah buaya. Kami mendapatkannya. Saya membeli dua tanaman lavender dan satu lidah buaya. Selanjutnya kami mampir ke sebuah kios untuk membeli madu hutan. Setelah itu perjalanan berlanjut ke toko perkakas bengkel untuk membeli pompa, yang ternyata tidak ada sehingga kami langsung pulang dan sampai di rumah pada jam 11-an. Saya menghentikan motor sebentar dam mampir di kios kecil untuk membeli es krim Aicee.
Karena sudah siang sampai rumah dan lelah, ditambah udara dan sinar matahari yang sudah terik, maka saya tidak jadi menanam bibit cabai. Lavender dan lidah buaya sudah tertanam di polybag dan hanya perlu pindah media tanam. Rencananya, besok pagi saya akan menanam bibit cabainya.
Aktivitas saya selanjutnya tidaklah banyak. Saya tidur nyenyak selama beberapa jam lalu bangun pukul setengah empat dan mulai berolahraga. Pada awalnya hanya ingin mengambil uang di ATM, namun akhirnya saya pakai untuk olahraga sekaligus dengan naik sepeda. Bersepeda di sore hari tidak begitu menyenangkan karena banyak pengguna jalan. Sebenarnya waktu yang tepat adalah siang hari, di kala terik-teriknya matahari dan jam-jam kerja sehingga sedikit orang berlalu-lalang di jalan.
Bagaimanapun, bisa bersepeda ialah suatu hal yang sangat pantas disyukuri, terutama karena dalam lima hari saya tidak melihat hari (dunia luar, dan langit biru) [tak tahu petang atau hari, hujan atau terikpun tidak tahu]. Bersepedapun juga mengajarkan saya untuk sabar. Alon-alon sing penting kelakon (pelan-pelan yang penting terlaksana). Selain itu, karena biasanya naik kendaraan bermotor dan bebas mengatur kecepatan yang diinginkan, bersepeda terasa seperti mengajarkan supaya saya harus sabar karena akan lebih lama mencapai tempat tujuan, dan juga supaya menyesuaikan ekspektasi dan kapasitas. Bersepeda berbeda dengan mengendarai motor. Saya harus menyesuaikan ekspektasi kecepatan dengan kapasitas fisik saya yang terbatas. Mungkin dalam kehidupan juga harus begitu, hehe.
Saya mampir di seminari, sekolah almamater saya, dan berlari memutari lapangan sebanyak tiga kali lalu beristirahat karena sangat lelah dan ngos-ngosan. Setelah itu saya pulang, melewati jalan kecil di tengah-tengah area persawahan.
Sungguh hari yang indah! Saya merasa lega hari ini karena dapat memanfaatkan akhir pekan dengan maksimal. Syukur kepada Allah!!!!!!!
Minggu Yang Berat dan Kesaksian
Awal minggu adalah pukulan hebat bagi karir saya. Bos saya memberi peringatan karena ada banyak sekali ketidak lengkapan dokumen yang sudah saya periksa. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya atas kinerja saya yang sembrono. Saya sendiri mengakui ketidaktelitian itu karena fokus pada belajar melakukan input data dan mengesampingkan tanggungjawab sebagai verifikator dokumen.
Sebagai pertanggungjawaban, saya diberi waktu dua minggu (minimal sebelum akhir minggu depan) untuk meminta MMS (bagian orang lapangan) melengkapi dokumen-dokumen yang kurang. Masalahnya adalah bahwa dokumen yang kurang lengkap itu ialah transaksi bulan Juni yang lalu. Sulit mendapatkan respon dan bantuan dari MMS untuk melengkapi kekurangan dokumen-dokumen tersebut karena mereka sendiri sudah sibuk dan sedikit waktu untuk mencari arsip transaksi bulan lalu.
Pikiran saya amburadul tak karuan karena hal ini. Pekerjaan sehari-hari sudah cukup memusingkan, ditambah beban ini. Muncul di pikiran saya untuk pasrah dan meminta bos memecat saya, supaya saya bisa kembali menjadi freelancer atau memenuhi panggilan suatu instansi. “Jika saya keluar dan menyetujui perjanjian dengan instansi itu, saya tidak akan pulang petang setiap hari seperti ini.” Pekerjaan saat ini memang seringkali membebani pikiran terutama karena jam kerja 12 jam (dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam normalnya {akhir bulan bisa sampai jam 10 malam}). Jika menjadi karyawan di instansi itu, saya akan dapat pulang jam 4 setiap hari rata-ratanya, dengan hari kerja sampai hari Sabtu. Akan tetapi, saya pikir ini bukan hal yang tepat dilakukan.
Memang dua hari di awal minggu ini menguras semangat dan tenaga; setiap hari ketika berangkat saya tidak bersemangat. Melihat orang-orang plat merah membuat iri hati (jam kerja dan kesejahteraan). Lalu ketika melihat orang-orang yang berwirausaha saya mbatin betapa mereka bebas dan tidak terikat seperti diri saya saat ini.
Melihat tumpukan berkas yang tidak lengkap itu benar-benar memusingkan. Sungguh ini menjadi momok. Saya lesu setiap hari dan lemas setiap berangkat ke kantor. Pikiran untuk resign terus mendorong saya. Namun, tiap kali saya mengeluh, ibu memberi nasehat untuk bertahan dulu sebisa mungkin. Saya yang sudah tidak punya semangat akhirnya menempuh suatu jalan terakhir.
Saya bersujud kepada Allah, mengakui ketidakmampuan dan keterbatasan diri untuk menanggung beban itu. Saya memohon ampun untuk dosa-dosa hina yang saya lakukan di minggu-minggu sebelumnya. Saya memohon belaskasih Allah karena telah berbuat keji dan jahat karena telah menghujat-Nya dengan pikiran-pikiran dan perbuatan yang hina-dina. Saya memohon kekuatan pada Dia yang empunya kuasa terbesar di alam semesta ini. Saya bersujud dan menyembah-Nya. Pagi-pagi sebelum berangkat dan di malam hari setelah pulang saya bersujud.
Saya juga mendengarkan sabda-Nya, terutama tentang bagaimana Allah menjanjikan kebahagiaan dan kehidupan bagi hamba-hamba-Nya yang takwa. “Allah memberkati Abraham, Ishak, Yakub, dan keturunannya. Allah menjanjikan mereka rencana besar-Nya pada diri mereka. Maka aku akan memohon ampun pada-Nya. Aku juga akan memohon supaya Ia membantuku dalam kesulitan, karena kuasa-Nya tak terbatas, kuasa-Nya yang terbesar di semesta ini. ”
Lalu saya juga mendapatkan beberapa kutipan dan permenungan orang-orang akan Sabda Allah:
“Manusia tidak bisa menyenangkan Allah dan yang bukan Allah yaitu iblis dan para pengikutnya di saat yang bersamaan.”(In Ezechielem Homiliae, 9).
“Dengan sungguh-sungguh Yakub berjuang dalam pergulatan hidupnya bersama dengan Allah. Sesudah pengalamannya yang mendalam, pandangan Yakub tentang Allah berubah. Dia pun mendapatkan berkat melimpah.”
“Pandangan Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut, dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
“Demi keselamatan hidup kalianlah, Allah menyuruh aku mendahului kalian ke Mesir.” (Kata-kata Yusuf kepada saudara-saudaranya yang dulu berbuat jahat padanya)
“Sebelum menjadi pembesar di Mesir, Yusuf mengalami banyak penderitaan akibat kejahatan saudara-saudaranya. Namun di dalam semuanya itu Yusuf melihat rencana besar Allah untuk memelihara kehidupan keluarganya.
“Kita bisa mengeluh karena semak-semak mawar memiliki duri/ bersukacita karena semak duri memiliki mawar.”
Kutipan-kutipan ini ialah berasal dari buku renungan dalam beberapa hari. Setelah saya kembali kepada Allah dan membaca sabda-Nya setiap hari, kutipan-kutipan ini terus melekat dalam kepala, dan menyatu dalam sebuah rangkaian yang beriring-iringan bersuara dalam hati.
Pertama, saya sadar bahwa selama ini setengah-setengah dalam ketaatan. Saya tidak total dalam mengabdi Allah. Sebagai hamba seharusnya saya hanya menyenangkan Allah semata dan selalu mengingat-Nya setiap saat sehingga akan terhindar dari dosa. Kedua, dalam masa kesulitan seperti ini seharusnya saya seperti Yakub, yang berjuang bersama Allah dalam setiap pergumulan hidupnya. Ketaatan adalah yang utama, karena Ia akan memerhatikan mereka yang takwa dan memelihara mereka di kala “kelaparan”. Saya harus lebih takwa pada Allah supaya Dia memelihara saya di masa “kelaparan” atau dalam kesulitan ini, serta percaya bahwa Allah telah merencanakan sesuatu yang besar bagi saya, seperti Yusuf melihat bahwa segala kesulitan yang ia hadapi adalah rencana Allah untuk memelihara kehidupan keluarganya dan keturunannya. Yang terakhir, dalam kesulitan ini saya menyadari bahwa saya bisa memilih bersukacita karena ada harapan di masa kesusahan ini. Harapan untuk bisa meraih kesuksesan di masa depan sebagai wirausahawan, harapan untuk bisa membahagiakan keluarga, dan harapan untuk menjadi insan yang berguna bagi orang banyak.
Namun, diatas semua harapan itu, saya percaya bahwa Allah memelihara saya, saya tak perlu khawatir. Allah memelihara Abraham serta keturunannya. Dia juga akan memberkati hidup saya. Semut dan burung pipitpun Ia pelihara, apalagi manusia makhluk yang paling Ia cintai.
Saya tak perlu khawatir masa depan. Allah telah menyiapkan semuanya.
Bantuan
Dengan bersujud dan menyerukan nama Allah, hati saya lebih tenang. Pikiran sayapun lebih jernih. Saya perlahan bisa mencicil tanggungan-tanggungan itu. Allahpun telah membantu saya, lewat bu Ira, orang tertinggi di wilayah operasional daerah ini, yang mengimbau anak buah MMSnya untuk melengkapi beberapa dokumen. Saat ini, beberapa dokumen sudah saya terima. Masih ada banyak kelengkapan yang belum saya dapatkan, namun sekarang saya lebih tenang dan percaya karena telah menyaksikan bagaimana Allah membantu saya dalam kesulitan dan menghibur kala saya bersusah hati.
“Mulialah Allahku, Allah Yang besar, Allah yang kudus, Allah yang Kekal dan berkuasa untuk selama-lamanya!!!
“Orang tertindas berseru, didengarkan Tuhan dan diselamatkan Tuhan dari segala derita.”
���'
Thursday, June 29, 2017
Pernak-pernik Juni, Ramadhan dan Lebaran
Bulan Juni menyuguhkan
saya berbagai macam pengalaman berharga dan tidak terduga. Selama setahun saya
masih menjalani hal yang sama; tak kunjung mengalami perkembangan signifikan
dari keterpurukan. Bulan ini dapat dikatakan sebagai titik balik yang sangat
berarti dalam kehidupan saya.
Naik Level
Di bulan ini saya
merasa naik level karena mendapatkan pekerjaan. Meskipun sampai saat ini masih
merasa kewalahan dengan pekerjaan itu, namun setidaknya saya sudah bekerja. Di
bulan lebaran ini, saya berkesempatan menjadi yang memberi (uang
saku/sangu/angpao) kepada keponakan-keponakan; hal ini sangat menggembirakan,
sebab saya bisa benar-benar merasa naik level menjadi orang dewasa, hahaha.
Momok Pekerjaan,
Mimpi Buruk !
Di liburan ini, saya
khawatir dengan waktu yang berlangsung dengan cepat. Tidak lama lagi liburan
akan habis. Saya masih mendapat mimpi buruk, yakni mimpi kewalahan menangani
pekerjaan administrasi yang rumit. Ini adalah momok terbesar saat ini. Jujur
saya tidak begitu menikmati pekerjaan di ruangan itu, yang memeras pikiran dan
konsentrasi. Namun, kerja dimana yang tidak “tidak enak” ?, demikian kata
orang. Saya setuju; kerja itu memang harus tirakat. Orang berhasil tidak selalu
mengawali langkah mereka dengan kemudahan. Perasaan takut dan tidak nyaman akan
pekerjaan kerapkali terbawa sampai tidur. Sungguh benar-benar momok yang
menakutkan!
Semangat Handai
Taulan
Hari pertama lebaran,
keluarga besar berkumpul di rumah, kecuali ibu yang masih bekerja hingga hari
keempat lebaran. Perjumpaan dengan sanak saudara selalu membuat saya gembira
dan damai. Saya senang rumah penuh dengan anggota keluarga besar. Kesempatan
seperti ini jarang sekali terjadi. Kami semua tidak selalu bercakap-cakap.
Namun, keberadaan mereka semua di rumah memberikan suasana damai, gembira, dan
aman di hari raya ini. Mengenai ketakutan akan pekerjaan, saya mendapat masukan
dan dukungan dari budhe dan yang lain; yang intinya ialah supaya saya tetap
bertahan dan menekuni pekerjaan ini.
Oni Ke Blitar!
Salah satu anggapan
yang salah tentang kehidupan setelah lulus kuliah:
Kau akan mendapatkan
banyak teman baru dan teman baik!
Salah!
Saya menyetujui
pernyataan diatas. Setelah lulus, saya memang tidak terlibat berbagai komunitas
atau organisasi, namun sering berinteraksi dengan banyak orang dan mendapatkan
banyak teman baru setiapkali menjalani tes-tes di perusahaan-perusahaan ataupun
di acara-acara. Namun, sekian lamanya waktu tidak bertemu dengan kawan-kawan
semasa kuliah membuat saya merasa terpencil, terisolasi. Ingin rasanya
berkumpul dengan teman-teman kuliah dulu, atau sahabat semasa SMA. Jadi
kesempatan sekecil apapun sungguh sangat berharga, seperti kemarin lusa saya
dapat berjumpa dengan Oni, kawan baik saya yang kebetulan sedang bersilaturahmi
dengan saudaranya di Blitar. Itu hanyalah perjumpaan singkat dan sederhana,
namun membuat pikiran kembali positif dan terhibur (setelah merasa terisolasi,
dan jatuh bangun sendiri serta jauh dari kawan-kawan dekat dan seperjuangan di
masa kuliah dahulu). Senang mendapati diri sendiri dapat berjumpa lagi dan
bercakap-cakap dengan kawan baik. Sungguh suatu hal yang jarang dapat terwujud;
perjumpaan berarti dan meneguhkan semangat hidup!
Padatnya Agenda
Lama hidup di desa
membuat saya terbiasa dengan jadwal lebaran yang selalu padat dari tahun ke
tahun. Orang-orang disini selalu melakukan silaturahmi dengan sanak saudara
(baik saudara dekat maupun jauh), lalu kepada para orang tua (saudara/i kakek/nenek),
para tetangga (satu desa), dan teman-teman dekat. Orang mengenal istilah “kemput”
atau komplit, yang berarti sudah bersilaturahmi dengan semua sanak saudara,
para orang tua, dan tetangga satu desa (semua rumah di desa). Jadi meskipun
sudah lebaran hari ke 5 atau 6, atau bahkan setelahnya, di desa masih ramai
dengan lalu-lalang orang-orang badan, atau bersilaturahmi. Di hari ke 5
lebaran ini, keluarga saya masih belum kemput, masih akan dilanjutkan
lagi besok karena sudah larut namun masih banyak tetangga lain yang masih belum
kami kunjungi. Lebaran yang padat dengan silaturahmi seperti ini ialah yang
saya rindukan setiapkali hari raya Idul Fitri. Saya senang dan gembira dengan
kesempatan berharga ini. Ada banyak berkah yang didapatkan, seperti menjaga
tali persaudaraan dengan sanak saudara dekat dan jauh, membuat perasaan gembira
dan bahagia karena bertemu banyak orang, dan tentu menambah pengalaman dan
wawasan (lewat percakapan dalam silaturahmi). Sungguh bulan yang penuh berkah!
Masih Banyak Lagi
Hal Berkesan… Namun Saya Sudah Lelah untuk Menceritakannya
Mungkin akan saya
tambahkan pada postingan selanjutnya.
Selamat Hari Raya Idul
Fitri!
Mohon Maaf Lahir dan Batin!
Friday, June 16, 2017
Lelahnya Bekerja dan Akhir Pekan Sebagai Manusia
Syukur alhamdulillah saya sekarang sudah diterima bekerja di sebuah bank sebagai staf administrasi. Sudah lebih dari seminggu ini saya bekerja sekaligus training. Saya sangat bersyukur karena setelah sekian lama menganggur saya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Pun demikian, saya merasa pekerjaan ini sungguh berat.
Setiap hari jam 07:45 semua karyawan harus berkumpul di kantor. Setelah itu dilakukan briefing dan selanjutnya mulai bekerja. Sebagai staf administrasi, saya harus menunggu laporan dari bagian marketing atau mereka yang bekerja mengurus nasabah. Jadi rata-rata mereka mengirimkan laporannya sore hari padahal jam 19:00 sistem sudah tidak bisa dipakai. Hal ini membuat saya keteteran dan kewalahan terus. Saya bertanggungjawab pada penginputan data untuk dua wilayah marketing; karyawan lama lainnya sudah memegang empat. Namun, meskipun hanya dua, saya sangat kewalahan dan seringkali kacau, apalagi berkas-berkasnya begitu banyak dan saya masih bingung untuk menggolongkannya.
Pikiran saya tertekan setiap hari. Angka-angka membuat saya pusing dan mual di perut. Sebelumnya saya hanya berhadapan dengan kata-kata, namun kini harus mengurus angka-angka. Saya pikir saya masih beradaptasi, namun saya juga merasa tidak mampu dengan banyaknya berkas yang harus saya selesaikan setiap harinya. Pada hari Jum'at kemarin, saya mencapai titik "tidak krasan" karena ada begitu banyak berkas yang belum saya selesaikan dan masih terdapat ketidakcocokan dengan sistem, ditambah komputer yang error setiap kali saya hendak menyelesaikan tugas saya. Saya berdoa dan memohon belas kasih Tuhan. Saya juga mengutarakan rasa keberatan saya pada pekerjaan ini. Setelah beberapa waktu, saya merasakan suatu keajaiban. Seorang senior (di tengah menumpuknya pekerjaannya, menyempatkan) membantu saya dan menunjukkan cara cepat menyelesaikan berkas yang belum fixed. Saya sungguh merasa lega karena sebelumnya saya mual dan pusing, namun setelah itu pikiran menjadi terang kembali. Alhamdulillah! Puji Tuhan!!!!
Hal lain disamping rumitnya pekerjaan administrasi ialah jam kerja. Setiap hari kerja saya pulang rata-rata jam 8 malam. Jadi selama seharian penuh saya berada di dalam ruangan. Setiap berangkat saya merasa berat. Lampu merah saya harapkan menyala lebih lama. Saya merasa tidak rela meninggalkan dunia luar dan langit yang biru. Jadi setelah sampai di kantor, saya tidak akan tahu petang atau hari, hujan atau terik. Dunia luar tidak dapat dilihat dari dalam ruangan itu. Jadi, akhir pekan ialah saat yang sangat menggembirakan. Saya bisa menjadi manusia lagi seutuhnya (anggap saja selama weekdays saya menjadi robot atau mesin, hahaha). Saya bisa tidur puas dan bangun agak siang, bisa bermain game, bisa menulis di blog seperti ini lagi, dan bisa melihat langit biru dan alam yang indah ini.
Yeaahhhh! Ini sungguh menggembirakan!!!!!!!!! Syukur kepada Allah!!!!!
Saya lega namun di dalam hati masih merasa gentar. Hari Jumat kemarin memang sedikit terjadi transaksi, jadi laporannya tidak banyak; namun saya sudah sangat kewalahan. Saya masih ragu untuk menghadapi hari Senin-Kamis minggu depan. Namun, untuk saat ini saya percaya pada kekuatan doa, pertolongan rahmat Ilahi yang bekerja dalam setiap kesulitan. Ditambah, dukungan dari keluarga dan teman-teman membuat saya tidak rela apabila menyerah. Jadi hari Senin hingga Kamis minggu depan masih misteri. Namun, dengan pertolongan Tuhan dan sedikit persiapan saya pada hari kemarin, saya optimis bisa mengikuti ritme cepat dan padat minggu depan.
Mungkin ini ironis karena sebelumnya saya posting tentang keinginan untuk berwirausaha. Mimpi itu masih ada sekarang ini. Sementara ini saya melakukan pekerjaan ini untuk menambah pengalaman dan mempersiapkan diri untuk mewujudkan impian sebagai enterpreneur itu (sebut saja modal, mental, dan wawasan, haha).
Demikianlah, kawan! Semoga perjuanganmu juga diberkahi dan lancar !! Aminn
Setiap hari jam 07:45 semua karyawan harus berkumpul di kantor. Setelah itu dilakukan briefing dan selanjutnya mulai bekerja. Sebagai staf administrasi, saya harus menunggu laporan dari bagian marketing atau mereka yang bekerja mengurus nasabah. Jadi rata-rata mereka mengirimkan laporannya sore hari padahal jam 19:00 sistem sudah tidak bisa dipakai. Hal ini membuat saya keteteran dan kewalahan terus. Saya bertanggungjawab pada penginputan data untuk dua wilayah marketing; karyawan lama lainnya sudah memegang empat. Namun, meskipun hanya dua, saya sangat kewalahan dan seringkali kacau, apalagi berkas-berkasnya begitu banyak dan saya masih bingung untuk menggolongkannya.
Pikiran saya tertekan setiap hari. Angka-angka membuat saya pusing dan mual di perut. Sebelumnya saya hanya berhadapan dengan kata-kata, namun kini harus mengurus angka-angka. Saya pikir saya masih beradaptasi, namun saya juga merasa tidak mampu dengan banyaknya berkas yang harus saya selesaikan setiap harinya. Pada hari Jum'at kemarin, saya mencapai titik "tidak krasan" karena ada begitu banyak berkas yang belum saya selesaikan dan masih terdapat ketidakcocokan dengan sistem, ditambah komputer yang error setiap kali saya hendak menyelesaikan tugas saya. Saya berdoa dan memohon belas kasih Tuhan. Saya juga mengutarakan rasa keberatan saya pada pekerjaan ini. Setelah beberapa waktu, saya merasakan suatu keajaiban. Seorang senior (di tengah menumpuknya pekerjaannya, menyempatkan) membantu saya dan menunjukkan cara cepat menyelesaikan berkas yang belum fixed. Saya sungguh merasa lega karena sebelumnya saya mual dan pusing, namun setelah itu pikiran menjadi terang kembali. Alhamdulillah! Puji Tuhan!!!!
Hal lain disamping rumitnya pekerjaan administrasi ialah jam kerja. Setiap hari kerja saya pulang rata-rata jam 8 malam. Jadi selama seharian penuh saya berada di dalam ruangan. Setiap berangkat saya merasa berat. Lampu merah saya harapkan menyala lebih lama. Saya merasa tidak rela meninggalkan dunia luar dan langit yang biru. Jadi setelah sampai di kantor, saya tidak akan tahu petang atau hari, hujan atau terik. Dunia luar tidak dapat dilihat dari dalam ruangan itu. Jadi, akhir pekan ialah saat yang sangat menggembirakan. Saya bisa menjadi manusia lagi seutuhnya (anggap saja selama weekdays saya menjadi robot atau mesin, hahaha). Saya bisa tidur puas dan bangun agak siang, bisa bermain game, bisa menulis di blog seperti ini lagi, dan bisa melihat langit biru dan alam yang indah ini.
Yeaahhhh! Ini sungguh menggembirakan!!!!!!!!! Syukur kepada Allah!!!!!
Saya lega namun di dalam hati masih merasa gentar. Hari Jumat kemarin memang sedikit terjadi transaksi, jadi laporannya tidak banyak; namun saya sudah sangat kewalahan. Saya masih ragu untuk menghadapi hari Senin-Kamis minggu depan. Namun, untuk saat ini saya percaya pada kekuatan doa, pertolongan rahmat Ilahi yang bekerja dalam setiap kesulitan. Ditambah, dukungan dari keluarga dan teman-teman membuat saya tidak rela apabila menyerah. Jadi hari Senin hingga Kamis minggu depan masih misteri. Namun, dengan pertolongan Tuhan dan sedikit persiapan saya pada hari kemarin, saya optimis bisa mengikuti ritme cepat dan padat minggu depan.
Mungkin ini ironis karena sebelumnya saya posting tentang keinginan untuk berwirausaha. Mimpi itu masih ada sekarang ini. Sementara ini saya melakukan pekerjaan ini untuk menambah pengalaman dan mempersiapkan diri untuk mewujudkan impian sebagai enterpreneur itu (sebut saja modal, mental, dan wawasan, haha).
Demikianlah, kawan! Semoga perjuanganmu juga diberkahi dan lancar !! Aminn
Thursday, May 25, 2017
Gembiranya Hari Itu
Diseret ke Pasuruan
Terik matahari menyengat kulit. Debu membuat
keruh pemandangan. Jalanan ramai, padat dengan kendaraan; macet hingga
berkilo-kilometer. Jalanan longgar penuh dengan kendaraan berkecepatan tinggi.
Sungguh daerah yang keras!
Pada Selasa yang lalu
saya interview di satu perusahaan di Pasuruan. Saya berangkat dari Batu pukul
05:00, namun rasanya saya dipaksa motor saya untuk ke pabrik di kota industri
itu. Hati saya selalu mengatakan ingin pulang, namun tubuh terpaksa mematuhi
jadwal hari itu. Hal ini sama dengan perasaan saya ketika pergi sendirian ke
Gresik untuk interview. Rasanya saya tidak nyaman dengan semua itu. Suara di
dalam hati saya selalu memanggil saya untuk pulang dan berkarya secara bebas.
Mengapa setiapkali
saya tes kerja perasaan ini selalu muncul? Akhir-akhir ini saya mencoba
menjawab pertanyaan ini. Mungkin memang saya tidak ingin “ikut orang” dan
bekerja secara terjadwal dan rutin hampir setiap hari. Alasan lainnya mungkin
saya tidak nyaman dengan pakaian yang saya kenakan. Jujur saja ketika
berpakaian rapi menuju tempat perusahaan, saya melihat orang-orang lain yang
memakai pakaian casual; mereka yang berada di dalam mobil sambil
mendengarkan musik dan santai, mereka yang berjualan di toko kelontong, dan
mereka yang sedang pergi piknik dan rekreasi di saat saya pergi wawancara. Lalu
saya teringat mas Nanang, tetangga saya yang berwirausaha. Betapa bahagianya
orang-orang yang dapat menentukan ritme hidup dan agendanya sendiri secara
bebas, demikian pikir saya. Saya iri dengan mereka semua. Tapi saya tetap
melanjutkan perjalanan karena badan saya mendominasi pada hari itu. Saya sampai
di tempat interview.
Obrolan Tentang
Kebebasan
Wirausahawan itu orang yang berbahagia. Mengapa
kita hidup? Mengapa kita bersusah-payah mengikuti tes masuk kerja di perusahaan
untuk menjadi karyawan outsourcing atau PKWT? Mengapa kita bekerja menukarkan
waktu dan tenaga untuk upah yang sama terus? Beberapa orang memang beruntung di
BUMN dan instasi pemerintah sebagai PNS. Lalu sisanya (sebagian besar orang)
apakah bisa disebut sebagai orang-orang yang tak terpilih? Tentu tidak.
Beberapa memilih berwirausaha atau berkarya dengan bakat dan antusiasme tinggi
mereka pada bidang tertentu.
Saya mengobrol dengan
para pelamar lainnya. Mereka setuju bahwa jaman sekarang memang sulitnya bukan
main kalau mencari pekerjaan. Beberapa yang telah berpengalaman bekerja di bank
mengatakan bahwa pekerjaan mereka tidak “barokah”. Mereka juga menceritakan
bagaimana bank itu bermain-main dengan uang nasabah mereka. Pekerjaan di bank
memang menghasilkan uang yang lumayan cukup, namun tidak menjadi berkah apabila
diteruskan. Kami lalu berbincang tentang wiraswasta. Kami semua setuju, bahwa
ini ialah jalan terbaik yang dapat kami lakukan. Wirausaha yang baik cenderung
sehat tanpa memeras dan mempermainkan kepunyaan orang lain, dan lebih “barokah”,
dan yang paling penting, tidak pernah akan dituntut untuk “begini” dan “begitu”,
melainkan bebas menentukan jam kerja dan liburan. Wirausaha memang jauh lebih
menggembirakan, apalagi jika pada bidang yang kita ahli dan kita sukai. Betapa bahagianya para enterpreneur!!!
Hari yang
Menggembirakan
Mungkin semakin saya memaksakan diri, semakin
saya sadar bahwa Tuhan memanggil saya untuk berhenti mengejar semua ini dan
kembali untuk sesuatu yang lebih berarti.
Hari itu adalah hari
menggembirakan karena saya bertemu orang-orang baru; hal ini menambah relasi
saya. Tesnya berjalan lancar dan saya berhasil membuat puas HRDnya (hari
berikutnya gantian user menjadi tidak puas, haha). Sepulang tes, saya dan dua
orang lainnya berbincang-bincang sebentar di sebuah warung. Setelah itu saya
kembali ke Malang (melewati kemacetan berkilo-kilometer jauhnya dengan terik
matahari dan debu-debu berterbangan, serta kerikil jalanan rusak). Setelah itu
saya mampir di rumah Oni. Senang rasanya bisa bertemu lagi dengan teman saya
karena selama berminggu-minggu saya tidak menjumpai satupun teman kuliah dan
ini membuat saya seperti terisolasi. Oni dan saya memiliki gagasan yang sama
tentang kondisi memprihatinkan dunia ini. Perjumpaan dengannya selalu
memberikan saya semangat baru.
Dalam perjalanan
pulang, saya melamun dan merenung, mencoba memahami hal-hal yang terus mengusik
hati saya.
Sekarang saya
menyimpulkan bahwa saya sangat ingin berkarya secara mandiri dan bebas. Saya
tidak ingin terikat. Saya ingin dekat dengan keluarga dan teman-teman saya.
Dekat yang saya maksudkan ialah dekat secara ruang atau waktu. Saya ingin hidup
sepenuhnya. Kehidupan yang sederhana namun penuh berkah seperti mas Nanang
tetangga saya, itulah yang ingin saya tuju sekarang ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)